Kultum

Puasa dan Empati Sosial

NUANSA Ramadan 1437 H tahun ini sepertinya tidak mengalami perubahan yang signifikan dari ramadan-ramadan tahun sebelumnya. Puasa yang seharusnya beru

Editor: Bedjo
SRIPOKU.COM/ZAINI
Ilustrasi, Panitia zakat fitrah dan zakat mal menerima pembayaran zakat dari warga di Kantor Yayasan Masjid Agung Palembang, Rabu (29/6/2016). 

Dr. A. Rifai Abun, Dosen UIN Raden Fatah Palembang

SRIPOKU.COM - NUANSA Ramadan 1437 H tahun ini sepertinya tidak mengalami perubahan yang signifikan dari ramadan-ramadan tahun sebelumnya. Puasa yang seharusnya berupaya untuk meningkatkan ketaqwaan di sisi Tuhan sebagai posisi puncak dalam tingkat keberagamaan seseorang, kini berubah menjadi sebuah ‘teater’ pertunjukan ibadah dan bahkan semakin menyuburkan sikap konsumtif di kalangan komunitas tersebut.

Berita Lainnya: Ini Dia Panduan Bayar Zakat Fitrah, Bayi yang Baru Lahir pun Wajib Bayar

Puasa Ramadan masih menjadi simbol ibadah yang belum memberikan nilai transformatif kepada masyarakat, karena puasa Ramadan hanya sekedar rutinitas dan trend unjuk gigi beragama. Ramadan yang tadinya sebagai bulan yang dinantikan oleh umat Islam untuk menorehkan lembaran-lembaran suci dan penuh makna, kini tereduksi oleh para elite politik yang sibuk mencari simpati dan dukungan. Mencari simpatisan dan suara-suara untuk menuju pilbub, dan pilgub dan menjadikan berbagai macam isu menyeruak diangkat ke permukaan.

Pada titik ini, dalam ranah politik, persahabatan dan permusuhan dalam waktu sesaat menjadi sangat rentan terjadi, bahkan pada titik seperti ini pula, sabotase-sabotase nilai keagamaan bisa terjadi. Berpuasa dalam konteks kekinian mestilah diinterpretasikan secara holistik dan fungsional. Jika umat muslim berpuasa hanya sekedar pelepas kewajiban ilahiah, maka umat muslim telah terjebak dalam rutinitas ritual belaka yang minim pemaknaan substantif. Kewajiban puasa yang terbatas bagi yang beriman merupakan kualifikasi transenden ilahiah. Sebab, dengan puasa diharapkan seorang muslim menjadi individu yang sempurna (kamil).

Sebagai bentuk refleksi dari ibadah puasa, maka dalam konteks nasional, sudah waktunya umat Islam mereposisi eksistensinya sebagai warga mayoritas di republik ini. Bisa dimulai dari melakukan aktivitas ritual yang fungsional seperti puasa ramadan, yang menyimpan pesan horizontal selain vertikal. Puasa termanifestasi dalam wujud kesalehan sosial dan tentunya personal. Kesalehan sosial tersebut bisa terwujud oleh state (negara) dalam bentuk kebijakan yang benar-benar pro dan konsisten terhadap pemberdayaan masyarakat lemah, miskin dan termarjinalkan. Kemudian perwujudan kesalehan sosial juga ditampakkan oleh kepedulian umat dan bangsa terhadap realita sosial di sekeliling, dari segala aspek.

Puasa mengajarkan umat untuk empati kepada para faqir dan miskin dengan segala narasi kehidupannya. Puasa juga mengajarkan agar syahwat ekonomi, politik, jabatan dan kekuasaan dibendung untuk dikelola secara baik dan sesuai aturan. Ibadah ritual di bulan puasa yang dilakukan umat Islam jangan sampai terhenti pada titik kuantitas belaka. Tetapi lebih kepada dua hal utama, yaitu: Pertama, kuantitas ibadah ramadhan yang liniritas dengan peningkatan kualitas personal dan memiliki gerak sentrifugal terhadap kehidupan sosial. Sholat tarawih, witir, puasa, memperbanyak zikir, tadarrus Qur’an, sholat sunah dan shodaqoh. Bukan ritual belaka yang tidak ada resonansi personal dan sosial. Kedua, ritual dalam ramadhan mesti berwatak fungsional yaitu ibadah personal yang diimplementasikan secara ril dalam kehidupan. Shodaqoh tidak lagi sekedar memberi dari si kaya kepada si miskin, atau yang punya kepada yang faqir tetapi naik tingkat menjadi pemberian (tentu dengan ikhlas) manfaat dari kepemilikan atau kemampuan individual untuk maslahat sosial.

Perasaan inilah sejatinya yang ingin disampaikan oleh momentum puasa setiap tahun bagi umat muslim. Pro terhadap kaum marjinal atau kaum lemah, papa dan miskin bukanlah suatu pemihakan kalah menang seperti dalam politik dan kompetisi. Tetapi lebih merupakan pemihakan kehidupan yang bersisikan nilai universal bahwa kaum marjinal, lemah, miskin kepada realitas kehidupan manusia. Dengan bahasa lain puasa adalah sebuah aktivitas pemihakan Tuhan terhadap kaum dhoif. []

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved