Kultum

Detik Terakhir yang Prihatin

BULAN Ramadan merupakan bulan mulia, bulan yang dijadikan momentum untuk meningkatkan kebaikan, ketakwaan serta menjadi ladang amal bagi orang-orang y

Editor: Bedjo
www.khilafah.com
Ilustrasi. 

H Muhammad Husin, Editor Sripo/Alumni IAIN Raden Fatah Palembang 1998

SRIPOKU.COM - BULAN Ramadan merupakan bulan mulia, bulan yang dijadikan momentum untuk meningkatkan kebaikan, ketakwaan serta menjadi ladang amal bagi orang-orang yang saleh dan beriman kepada Allah SwT yang tercermin dalam niat, ucapan dan perbuatan yang terintegritas sebagai seorang muslim sejati.

Berita Lainnya: Puasa dan Pesan Kesehatan

Tidak terasa, Ramadan tahun ini sudah mendekati akhir karena telah telah memasuki 10 hari terakhir. Sebagian besar ulama membagi fase Ramadan dengan tiga bagian. Fase pertama, yaitu 10 hari pertama adalah sebagai fase rahmat, 10 hari kedua atau pertengahan adalah fase maghfiroh (ampunan), serta fase ketiga atau 10 hari terakhir adalah fase pembebasan dari api neraka (itqum minannar).

Maka saat ini kita berada dalam fase ketiga, yaitu fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Salman al-farisi, "Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari api neraka."

Rasulullah Muhammad SAW, yang merupakan manusia terpilih dan suri tauladan terbaik bagi kita, (ushwatun hasanah) jika Ramadan memasuki 10 hari terakhir, maka beliau semakin memaksimalkan diri dalam beribadah. Beliau menghidupkan malam harinya untuk mendekatkan diri kepada Allah SwT, bahkan beliau membangunkan keluarganya agar turut beribadah. Dari Aisyah RA, ia menceritakan tentang keadaan Nabi SAW ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, "Beliau jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari).

Rasulullah SAW sangat memerhatikan 10 hari terakhir bulan Ramadan karena di dalamnya begitu banyak keutamaan yang bisa didapatkan pada waktu-waktu tersebut. Beberapa di antaranya: Pertama, sebagaimana sudah lazim kita pahami bahwa sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan adalah turunnya lailatul qadr. Malam yang sangat dinantikan untuk didapatkan oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan pengharapan ridha Allah SwT, karena pada malam tersebut siapa saja yang beribadah kepada Allah SwT dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah SwT maka nilai ibadahnya sama dengan bernilai ibadah selama 1000 bulan atau setara dengan 83 tahun 4 bulan. Sebagaimana firman Allah SwT dalam surat Al-Qadr ayat 3: "Lailatul Qdr itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 3).

Tentunya dengan mendapatkan lailatul qadr adalah suatu hal yang sangat membahagiakan bagi orang yang beriman yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan kepada Allah SwT. oleh karenanya, pada hari 10 terakhir ini tidak sedikit dari kaum muslimin yang melakukan i'tikaf di masjid agar rangkaian ibadah yang dilaksanakan, salat malam, tadarus Al-Qur'an, berdzikir dan amalan-amalan lainnya dapat dilaksanakan dengan khusyuk, tentunya dengan tujuan lailatul qadr dapat diraih. Pada malam tersebut keberkahan Allah swT melimpah ruah, banyaknya malaikat yang turun pada malam tersebut, termasuk Jibril a.s. Allah SwT berfirman: "Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar." (QS. Al-Qadr; 5).

Dalam sebuah hadits sahih Rasulullah SAW juga menyebutkan tentang keutamaan melakukan qiyamullail di malam tersebut. Beliau bersabda. "Barangsiapa melakukan salat malam pada lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Keutamaan kedua adalah sepuluh hari terakhir bulan Ramadan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap insan manusia yang beriman kepada Allah SwT mengakhiri Ramadan dengan kebaikan, yaitu dengan berupaya dengan semaksimal mungkin mengerahkan segala daya dan upayanya untuk meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Karena amal perbuatan itu tergantung pada penutupnya atau akhirnya.

Rasullah SAW bersabda: "Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu kelak."

Lantas, bagaimana dengan saya, anda dan kita semua? Justru sangat jauh dari apa yang dicontohkan Rasulullah. Jumlah shaf (barisan) pada salat terawih sudah pada maju, karena warga sudah berburu ke mall untuk membeli baju. Masjid di awal Ramadan selalu ramai dan tampak mampu menampung jamaah, kini di akhir-akhir ini justru masjid terlihat kosong. Sebelum terlambat, kita masih punya beberapa hari lagi, mari kita maksimalkan sisa-sisa bulan Ramadan ini dengan meningkatkan amaliyah ibadah kita kepada Allah SwT dengan qiyamullail (menghidupkan malam) pada bulan Ramadan, khususnya pada malam-malam penghujung bulan ini. Semoga kita dikuatkan untuk selalu berjaga di sepuluh hari terakhir ini. Kalau tidak hari ini, kapan lagi. Kalau tidak kita, siapa lagi.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved