Mutiara Ramadan
Takwa yang Hakiki
(MUSIM) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi...(Al-baqarah :197) Yaitu bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah. Allah SWT mengatur urutan ibadah de
Drs H SYARIFUDDIN YA'CUB MHI
Dosen UIN Raden Fatah Palembang
SRIPOKU.COM - (MUSIM) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi...(Al-baqarah :197) Yaitu bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah. Allah SWT mengatur urutan ibadah dengan tepat. Sebelumnya di bulan Ramadan Allah mewajibkan kepada hambaNya yang beriman berpuasa sebulan penuh dengan target supaya bertaqwa (la'alakum tattakun). Takwa dijadikan bekal menunaikan ibadah haji. Berbekallah kamu, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (watazawwaduu fainna khairo zzadi ttaqwa).
Berita Lainnya: Usia Yang Barokah
Takwa menurut Imam Gazali adalah; "Imtitsalu awamirillah Azza wa Jal wajtinabunnawahihi sirron wa'ala niah --mengerjakan seluruh apa-apa yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi seluruh laranganNya baik secara sembunyi-sembunyi, maupun terang-terangan". Kenapa dengan berpuasa hasil yang akan dicapai adalah takwa, karena puasa sebagai pintu ibadah. Rasulullah SAW menyatakan: "ashshiamu baabul ibaadah --puasa itu pintu ibadah". Dengan berpuasa secara ikhlas akan terbuka peluang ibadah yang lain, Allah berkenan mempermudah melaksanakan ibadah haji, menunaikan zakat, bershadakah. Untuk mencapai kepada martabat takwa yang hakiki (haqqo tuqootih) diperlukan mekanisme sebagai proses yaitu ; Ilmu, Iman, amal,ikhlas dan istiqomah.
Pertama, orang bertakwa memerlukan ilmu, sebagaimana Alquran surah al-Baqarah ayat 1 dan 2. 1).Alif laammiim, ayat mutasyabihat, tidak ada ulama salaf yang berani dan mampu menafsirkannya; Allah saja yang mengetahui maksudnya. 2) Zaalikal Kitaabu laa roiba fiihi hudan lilmuttaqiin,-- kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Maksudnya orang yang bertakwa wajib berilmu, dapat memahami isi Alquran yang berisi petunjuk (hudan) yang membedakan benar dan salah, baik dan buruk.
Kedua, orang bertakwa wajib beriman (haqqul yaqin) untuk sampai pada keyakinan yang hakiki, melalui proses; Ilmul yaqin, 'Ainul yaqin dan Haqqul yaqin.
Seseorang mengetahui bahwa di Mekkah ada Ka'bah, mulanya melalui informasi yang diperoleh dari membaca, mendengar penjelasan, ini baru sampai pada tahapan ilmul yaqin. Ketika seseorang sampai di Mekkah, menyaksikan adanya Ka'bah di tengah masjidil haram, dia melihat ada Hajar aswat, hijir Ismail, Maqom Ibrahim berarti dia sampai pada tahapan 'Ainul yaqin. Setelah dia tawaf, berdoa di Multazam, salat di Maqom Ibrahim, minum air Zam-zam dan berdoa: Allahumma inni as aluka ilman naafi'a wa rizqon waasi'ah wa syifaan min kulli daain wa saqomin birahmatika yaa arhamar Rahimin --Ya Allah aku bermohon kepada Engkau Ilmu yaang bermanfaat, rezki yang luas dan sembuh dari segala macam penyakit, dengan Rahmat Engkau wahai yang Maha Penyayang." Setelah itu lalu sembuh penyakitnya, maka sampailah dia pada tahapan haqqul yaqin, keimanan yang hakiki.
Ketiga, orang bertaqwa, akan memperbanyak amal ibadahnya karena dimotivasi oleh ilmu dan iman yang hakiki. Betambah luas ilmu seseorang akan bertambah kuat imannya, dan bertambah banyak amal ibadahnya. Sedikit ilmunya, menjadi dangkal imannya dan sedikit pula amal ibadahnya.
Ke Empat, amal ibadah yang dilakukan hendaklah ikhlas semata-mata karena perintah Allah SWT. Tidak boleh ada rasa ria atau kibir yaitu ingin popularitas walaupun hanya di dalam hati, sebab ria atau kibir rasa ingin popularitas di dalam hati saja menyebabkan seseorang terhalang masuk Surga, sebagaimana Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika hari kiamat Allah menanya kepada orang yang mati syahid; Kenapa engkau sampai mati terbunuh di medan perang fii sabilillah? Dijawabnya, aku ingin membela agama Allah dengan ikhlas Yaa Allah. Lalu Allah menjawab; Bohong engkau, di dalam hatimu, engkau ingin dikatakan pahlawan yang gagah berani. Gelar itu sudah engkau peroleh di dunia, maka diseretlah orang itu ke neraka.
Kelima istiqomah. Orang yang bertakwa hendaklah istiqomah, teguh pendirian dan beramal ibadah hendaklah secara dawam, terus menerus atau berkesinambungan. Rasulullah SAW menyatakan bahwa amal ibadah yang disukai Allah SWT --walaupun sedikit tetapi dawam, berkesinambungan. Untuk sampai pada martabat istiqomah menurut Rasulullkah SAW adalah, bagi seseorang yang membaca seratus ayat di dalam sholat Tahajjud maka dia tidak termasuk kedalam kelompok hamba Allah yang lalai (ghofilin). Jika membaca dua ratus ayat dia dikelompokkan kedalam kelompok hamba Allah yang istiqomah. Dan siapa yang melaksanakan sholat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak termasuk dalam kelompoh hamba Allah yang lalai (ghofilin), dan siapa yang melaksanakan sholat Dhuha empat rakaat maka dia dikelompokkan Allah pada kelompok hamba Allah yang istiqomah.
Bagi hamba Allah yang sudah sampai pada Iman Hakiki, maka martabat ketaqwaannya sampai pada Haqqo tuqotih --taqwa yang hakiki, maka mine setnya atau alur berpikirnya lebih mengedepankan upaya mencari ridlo dan kemuliaan dalam pandangan Allah SWT dengan mendahulukan ibadah kepada Allah SWT.