Kultum
Puasa Membuka Hijab Tuhan
BETAPA berpuasa di bulan Ramadan ini menjadi satu medan latihan yang tidak bisa disia-siakan. Karena orang yang menjalankan ibadah puasa pada hakikatn
Tri Wahyudi, Mahasiswa UIN Raden Fatah
SRIPOKU.COM - BETAPA berpuasa di bulan Ramadan ini menjadi satu medan latihan yang tidak bisa disia-siakan. Karena orang yang menjalankan ibadah puasa pada hakikatnya ia berada pada ihsan. Seseorang yang tengah berpuasa, maka ia tidak akan makan atau minum sampai tiba waktu berbuka. Ia juga tidak akan berbuat kejahatan sebab waktunya habis ia kerjakan untuk kebaikan. Seseorang yang berpuasa berarti ia sedang menjalani proses perubahan jiwa. Dulu, ketika Adam pertama diciptakan, ia hidup bersama makhluk lain yang tidak makan seperti malaikat dan iblis. Namun akibat memakan makanan terlarang (buah khuldi), Adam pun diusir dari surga dan diturunkan di bumi. Saat itu ruhani Adam mengalami penurunan derajat menjadi makhluk yang fana. Berbeda dengan hukuman manusia di dunia berupa penjara dan siksaan fisik, Allah menghukum Adam dengan menempatkan al-ghayn (hijab penghalang antara makhluk dengan Tuhan) yang membuat Adam tidak bisa lagi berkomunikasi dengan makhluk-makhluk gaib dan tidak bisa pula berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta.
Berita Lainnya: Sabar Dan Usaha
Sadar bahwa ia telah mendzalimi diri sendiri, Adam beristighfar memohon ampun dengan berpuasa untuk kembali berproses mendaki menuju Allah, sampai mencapai derajat ma'rifat. Yaitu derajat sebagai wakil Allah (khalifah) yang disujudi malaikat dan bisa komunikasi dengan Tuhan dan makhluk-makhluk alam lain. Karena itulah orang yang berpuasa dan berhasil menjalankan puasanya dengan sempurna, mereka akan mencapai fitrah, yaitu derajat sebagai khalifah Allah, sehingga disebut dengan istilah ‘Idul Fitri artinya kembali ke fitrah.
Membuka Hijab
Ada sebuah kisah tentang perjalanan haji seorang syekh sufi bernama Abu Yazid Bustami. Abu Yazid telah berhaji 3 kali, di mana pada masing-masing hajinya ia mengalami perjalanan yang luar biasa. Pada haji pertama, Abu Yazid hanya melihat ‘batu’ yang bernama Ka’bah. Pada haji kedua Abu Yazid bertemu dengan batu dan pemiliknya. Dan pada hajinya yang ketiga, ia hanya menyaksikan pemilik batu saja tanpa melihat ada batu secara fisik. Hal tersebut menunjukkan betapa Abu Yazid telah sampai pada penglihatan ruhaninya, sebagai Ma'rifat.
Puasa Ramadhan ini, merupakan satu pijakan luar biasa untuk bisa sampai pada penglihatan ruhani sebagaimana yang terjadi pada Abu Yazid al Bustami. Karena itu kita seharusnya untuk tidak menyia-nyiakan momen penting itu. Syaikh al-Akbar Ibnu Arobi, menjelaskan bahwa “puasa adalah satu-satunya ibadah yang tidak memiliki bentuk”. Kalau sholat memiliki gerakan-gerakan yang jelas tampak oleh inderawi, demikian dengan ibadah haji yang memiliki sederet ritual-ritual yang kasat mata, ibadah zakat, shodaqoh, sampai bersyahadat, tapi tidak demikian dengan puasa. Puasa adalah ibadah yang tidak bisa dilihat secara visual, puasa dan tidaknya seseorang, orang lain tidak akan bisa mengetahui. Puasa adalah pengejawantahan sifat tanzih Tuhan.
Selain mengesampingkan aspek indera dan akal pikiran, salah satu cara untuk membuka tabir al-ghayn adalah dengan istighfar dan berpuasa. Hal itu juga yang diajarkan sebuah do’a permohonan ampun Adam terhadap Tuhannya, “Robbana zholamna anfusana wa in lam taghfir lana lanakunanna minal khosirin”.
Oleh karena itu, puasa dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk ‘mengenal’ Tuhan lebih dekat. Puasa juga dapat mengantarkan manusia untuk bersatu dan berdekatan dengan Tuhan. Puasa sekali lagi dapat membuka tabir penghalang kepada Tuhan. Dengan fitrah yang menjadi hasil puasanya, manusia akan menjadi malaikat-malaikat suci yang selalu mengisi waktunya dengan ibadah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/istighfar_20160625_090441.jpg)