Kultum

Sabar Dan Usaha

CERITA tentang Nabi Ayub yang sering kita dengar biasanya dikaitkan dengan kesabarannya. Nabi Ayub, dipuji Allah karena sabar dengan musibah yang meni

Editor: Bedjo

Oleh: Prof Dr Ris'an Rusli MA

Dosen UIN Raden Fatah Palembang

SRIPOKU.COM - CERITA tentang Nabi Ayub yang sering kita dengar biasanya dikaitkan dengan kesabarannya. Nabi Ayub, dipuji Allah karena sabar dengan musibah yang menimpanya. Ia ditimpa penyakit yang tak kujung sembuh, hartanya habis dan anak istrinya menjauh. Tapi Nabi Ayub masih tetap istiqomah kepada Allah menjaga imannya dari godaan setan. Allah pun memujinya dengan sebutan al-Awwab; orang yang selalu kembali kepada Allah.

Berita Lainnya: Ramadan Bulan Seribu Kebaikan

Sebutan al-Awwab memang layak diberikan kepada Nabi Ayub. Ketika musibah menimpanya, Ayub masih tetap bersyukur kepada Allah; memuji dan bertasbih. Di tengah godaan setan dan kehilangan harta bendanya, Ayub juga masih berdoa kepada Allah agar diberikan kesabaran dan kekuatan.

Kisah Nabi Ayub yang diabadikan Alquran ini mengingatkan kepada kita betapa dalam hidup ini ujian dan cobaan pasti akan terjadi. Kekayaan, keturunan dan jabatan yang dimiliki manusia, hakikatnya adalah 'titipan' Allah. Yang diberikan kepada manusia sebagai amanah yang harus dijaga dan dipelihara. Selayaknya titipan, manusia juga harus rela jika ia diminta kembali oleh yang memiliknya sembari terus menjalankan tugasnya dengan sabar. Dalam hal ini Allah berkata 'Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar; (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun' (QS Al-Baqarah: 155-156).

Allah memuji orang yang sabar ketika ditimpa musibah disebabkan mereka masih memiliki prinsip bahwa semuanya adalah milik Allah. Prinsip kepemilikan Allah inilah yang membuat manusia kuat dalam hidupnya. Apalagi ketika kematian datang menghampiri manusia, maka kekuatan itu justru menambah keyakinan bahwa kematiannya hanyalah 'jalan' menuju kebahagiaan yang hakiki. Dia menyadari bahwa semua manusia akan mengalaminya, bahwa 'Tiap-tiap yang bernafas akan merasakan kematian'.

Belajar dari Nabi Ayub
Kita memang harus belajar dari kesabaran yang diperlihatkan oleh Nabi Ayub dalam cobaannya. Ketika beliau ditimpa penyakit yang tak kunjung sembuh, harta benda habis tak berbekas, bahkan anak dan istri lari menjauh, Ayub masih tetap berdoa kepada Allah. Menurut ulama, cobaan ini berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama. Tapi tetap Ayub bersabar dan terus berdoa.

Kita mungkin tidak bisa sabar seperti Ayub. Apalagi ketika anak kita sakit atau mengalami musibah, selaku orangtua kita pasti sedih. Kesedihan kita justru sering membuat kita goyah. Tapi sebagai hamba Allah, kesedihan itu seharusnya tidak menghalangi kita untuk berdoa. Dan doa yang terbaik tentu saja adalah doa minta diberikan kesabaran dan jalan keluar. Dalam hal ini, Allah berfirman, 'Sesungguhnya dalam kesulitan itu ada kemudahan'.

Keyakinan bahwa akan ada jalan keluar dari setiap masalah, mengharuskan kita melakukan ikhtiar dan usaha. Kalau kita sakit, maka kita dituntut untuk minum obat; kalau kita tidak ada harta, maka kita wajib mencarinya. Untuk itu, orang yang selalu berusaha dan yakin akan berhasil, maka Allah akan berikan jalannya. Di sinilah dibutuhkan kesabaran untuk tetap yakin. Sebab, setan pasti akan terus menggoyahkan keyakinan kita. Setan pasti akan terus memasukkan keraguan dan keputusasaan. Orang yang sabar, yakin dan terus berusaha adalah mereka yang sebetulnya berjiwa seperti Nabi Ayub. Maha benar Allah ketika Dia mengatakan bahwa 'Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar'. [*]

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved