Kultum
Puasa Diri
MUNGKIN telinga kita sudah bosan mendengar banyak sekali masalah yang terjadi di tengah masyarakat kita, dari tindak pidana korupsi sampai pelecehan s
Deddy Ilyas, M.Us
Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang
SRIPOKU.COM - MUNGKIN telinga kita sudah bosan mendengar banyak sekali masalah yang terjadi di tengah masyarakat kita, dari tindak pidana korupsi sampai pelecehan seksual, berita duka bangsa ini terus masuk ke dalam pikiran kita. Dari transaksi narkoba sampai pergaulan bebas remaja, derita bangsa ini terus menggerus hati suci kita. Aneh, begitu pikir kita. Ada apa dengan moral bangsa ini? Separah apakah badai kerusakan moral melanda bumi pertiwi?
Berita Lainnya: Agama Obat Stress dan Frustasi
Saat bangsa ini dirundung duka karena penyakit sosial yang begitu banyak, bulan Ramadan datang. Bulan yang mewajibkan kita harus mampu menahan diri dari godaan, datang tepat pada waktunya. Bulan yang bergunjing saja mampu mengurangi pahala puasa, kini hadir bersama kita. Ada setitik harapan yang mungkin saja bisa membantu bangsa ini keluar dari musibah. Ada peluang yang bisa kita lakukan. Ya, peluang itu adalah berpuasa.
Menahan Diri
Hati nurani bangsa ini terkejut ketika Yuyun, si gadis kecil dari Bengkulu, diperlakukan secara tidak manusiawi oleh mereka yang diperalat nafsu. Tangis sedu menyertai kematiannya. Yuyun, mengingatkan kita betapa setiap gadis kecil di zaman yang keterlaluan ini sangat rentan menjadi korban. Yuyun, adalah duka bangsa; duka kita.
Tetapi satu Yuyun sudah cukup. Tidak perlu ada yuyun-yuyun lagi. Tidak perlu ada gadis kecil yang kehabisan tenaga di tengah keramaian laki-laki. Tidak perlu lagi ada jeritan yang tertahan karena suara tidak lagi terucap. Begitu kejam bangsa ini, sampai setiap ibu meneteskan air mata. Sampai setiap ayah memeluk gadis kecilnya dari tatapan buas lelaki.
Lembaran penderitaan Yuyun adalah sebuah derita terbesar yang tidak boleh terjadi lagi di negeri ini. Sudah saatnya negeri ini mengisi halaman kisahnya dengan bab dan kalimat baru. Dengan cerita moral kenabian dan inspirasi kesucian. Negeri ini hanya boleh dibasahi dengan air mata seorang ibu yang menangis haru menyaksikan anak-anaknya sukses dan bahagia.
Karena itulah, setiap manusia di negeri ini harus mampu menempatkan dirinya pada barisan pelaku kebenaran. Yang memaksimalkan dirinya untuk bekerja dan terus memberikan karya kepada anak bangsa. Yang menempa hidupnya dalam sikap optimis dan disiplin.
Setiap manusia di negeri ini harus bisa menjadi dan bukan membunuh asas-asas kemanusiaan.
Puasa Diri
Derita bangsa ini sebenarnya bisa kita kikis habis. Agama dan tradisi Timur kita adalah modal yang sangat berharga. Agama bisa menjaga diri kita dan keluarga. Juga tradisi akan mampu menciptakan masyarakat yang bersatu. Melalui agama, manusia akan ingat kepada Tuhan. Melalui tradisi, manusia juga tidak akan lupa pada ikatan.
Puasa dapat menjadi contoh bagaimana agama berperan. Puasa mampu menjaga lisan dan perbuatan. Puasa juga mampu menjaga perasaan.
Orang yang berpuasa akan membuang keluh kesah lisannya. Mengurangi perbuatan busuknya. Membuang ego hatinya. Puasa diri akan menjadikan manusia seperti Nabi. Lisan, perbuatan dan hatinya akan suci murni. Ia tidak akan bisa menolak perintah Tuhan, karena perbuatannya adalah karunia Tuhan. Ia juga tidak akan mampu mengunjing kawan, karena hatinya tidak pernah dihinggapi sifat iri dan dengki.
Bangsa ini perlu berpuasa dari tabiat dan watak nafsunya. Bangsa ini juga perlu berbenah diri dari segala keruwetannya. Puasa adalah satu dari sekian banyak nilai agama yang harus kita tanamkan lagi. Dengan puasa diri, maka tidak ada lagi perilaku binal para laki-laki pemabuk dan perusak moral. Tidak ada lagi Yuyun dalam sejarah diri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/zikir-di-masjid-agung-palembang_20151231_211453.jpg)