Mutiara Ramadan

Shiyam Tingkatkan Kualitas Ihsan

WAKTU terjadi dialog antara Rasulullah dengan Jibril, saat Rasulullah SAW bersama sahabatnya dalam satu majlis, dimana waktu itu Jibril --muncul seper

Editor: Bedjo
SRIPOKU.COM/SYAHRUL HIDAYAT
Nofrizal Nawawi Lc MPdI 

Oleh : Nofrizal Nawawi Lc MPdI

SRIPOKU.COM - WAKTU terjadi dialog antara Rasulullah dengan Jibril, saat Rasulullah SAW bersama sahabatnya dalam satu majlis, dimana waktu itu Jibril --muncul seperti seorang laki-laki yang berpakaian serba putih dan duduk berhadapan dengan Rasulullah layaknya seperti sahabat yang begitu akrab. Saat itu para sahabat heran karena tidak ada yang kenal dengannya, lantas dia bertanya tentang "Islam" dan dijawab Nabi dengan "bahwa kamu bersahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali dan bersyahadat bahwa Muhammad SAW--itu adalah Rasul Allah, mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa Ramadan dan hajji ke baitullah bagi siapa yang mampu mencapainya". Tamu itu membenarkan jawaban Nabi dan lanjut bertanya tentang "iman". Nabi menjawab "Iman itu kamu beriman dengan Allah, Malaikat, kitab-kitab Allah, Rasul, hari kemudian dan kamu beriman dengan qadar baik dan buruknya,". Dia kembali membenarkan jawaban Nabi, dan bertanya lagi tentang "ihsan". Lalu Nabi menjawab: "Al Ihsan adalah kamu menyembah/beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya, jika kamu tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allah melihatmu." Jibril membenarkan dan bertanya lagi tentang hari kiamat. (Maksud hadist Riwayat Bukhari dan Muslim).

Berita Lainnya: Ramadan Bulan Training Istiqomah

Nabi kita Muhammad SAW mengajarkan kita untuk optimal atau ihsan dalam setiap ibadah, tidak terkecuali dengan ibadah shiyam Ramadan. Setiap kita diminta untuk menjalani hari-hari puasa dengan penuh ketelitian. Menjaganya dari segala onak yang justru akan memporakporandakan pahala puasa kita. Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabatnya: "Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang salat malam, tapi tidak mendapatkan dari salatnya kecuali hanya begadang." (HR Ibnu Majah).

Ini artinya, hari-hari puasa kita haruslah penuh kehati-hatian. Menjaga lisan, pandangan dan anggota badan lainnya dari kemaksiatan. Sungguh berat, tapi tiga puluh hari latihan seharusnya akan membuat kita melangkah lebih ringan dalam hal ihsan pada bulan-bulan selanjutnya. Bahkan semestinya, perilaku ihsan ini memang menjadi branding dan karakteristik kaum muslimin dalam setiap perilaku dan amalnya.

Terakhir, banyak hikmah lain yang terserak sedemikian rupa dalam rangkaian ibadah selama bulan Ramadan bulan yang mulia ini. Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mengais hikmah-hikmah tersebut dari hari ke hari Ramadan kita lewati, untuk kemudian menjadikannya sebagai simpanan dalam menyambut bulan-bulan berikutnya.

Mari memulai dari keinginan tulus dalam hati untuk mensukseskan Ramadan tahun ini. Lalu diikuti dengan kesungguhan dalam mengisinya bahkan hingga saat hilal Syawal menjelang. Agar kegembiraan yang dijanjikan bisa kita dapatkan. Rasulullah SAW bersabda: "Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka (buka puasa dan juga saat Idul Fitri) dan kegembiraan saat bertemu Tuhan mereka." Hadits riwayat Bukhori & Muslim.(*)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved