Tanya Jawab Puasa

Bagian Muallaf

Ustaz, saya Muhammad Destian, mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Palembang. Saya mau bertanya, di dalam Alquran surat Al-Taubah ayat 60 Al

SRIPOKU.COM/ZAINI
Ilustrasi, Weni Widyana Bilqis (23) warga yang memeluk Islam atau muallaf. 

TANYA
SRIPOKU.COM - Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz, saya Muhammad Destian, mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Palembang. Saya mau bertanya, di dalam Alquran surat Al-Taubah ayat 60 Allah SWT menjelaskan tentang delapan asnaf yang berhak menerima zakat. Di antaranya adalah muallaf. Nah, yang saya tanyakan adalah: 1) Mengapa seorang muallaf termasuk di dalam delapan asnaf tersebut, 2) Lalu bagaimana jika di suatu desa tidak terdapat seorang muallaf, 3) Bagaimana kalau di desa itu ada muallaf tapi dia tidak diberikan bagian zakatnya. Terima kasih Ustaz. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Berita Lainnya: Surya dan Weni Ucapkan Syahadat di Masjid Cheng Ho Palembang

JAWAB
Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Saudara Muhammad Destian yang dirahmati Allah SWT. Pertama, Allah SWT yang tahu rahasianya, kenapa memasukkan muallaf ke dalam bagian asnaf penerima zakat (Allahu ya'lamu bi muradihi). Namun demikian, dapat kita pahami bahwa kondisi muallaf itu dalam bahasa agama disebut dengan muallafatu kulubuhum (hatinya masih bimbang), ketika dalam kondisi seperti ini diperlukan suasana untuk memantapkan hatinya, supaya tidak pindah lagi keyakinannya, mantap hatinya memilih Islam sebagai agama. Karenanya, Allah memasukkan mereka kaum muallaf dalam salah satu bagian delapan asnaf. Kedua, jika dalam suatu desa tidak terdapat muallaf, maka tidak usah ada bagian untuk muallaf, maka seperdelapan bagian mereka tentu dapat diberikan kepada asnaf yang lain. Ketiga, jika dalam suatu desa terdapat muallaf, tapi tidak diberikan bagiannya.

Pada masa Umar bin Khattab pernah mua'alf itu tidak diberikan bagian zakatnya, karena menurut Umar, Islam itu sudah kuat, dan menjadi muallaf itu banyak dari golongan orang-orang yang kaya, yang menurut ijtihad Umar tidak pantas jika diberikan bagiannya. Sedangkan, banyak di antara orang Islam ketika itu adalah orang fakir dan miskin, kelompok ini saat itu menjadi perioritas.

Namun demikian, sekarang, karena mu'allaf itu termasuk salah satu asnaf yang menerima dan disebutkan dalam Alquran, maka, jika di suatu desa seperti yang Saudara maksud sebaiknya bagian muallaf diberikan. Wallahu a'lam bishshawab.

Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved