Aming: Aku Lelaki Tulen Lho

Kisah Aming yang menikahi Evevelyn membuat heboh publik.

Aming: Aku Lelaki Tulen Lho
INSTAGRAM
Aming dan Evelyn 

Banyak ya, saudara kandungku. Sebenarnya malah lebih banyak dari itu. Kalau ditotal, Mien Rumiah yang biasa kupanggil Emak, punya 17 anak. Jadi, aku sebetulnya anak ke-16! Tapi kami tinggal bersepuluh, 5 anak perempuan dan 5 anak laki-laki. Tujuh saudaraku lainnya, meninggal baik saat masih bayi, maupun masih di dalam kandungan, menjelang mereka lahir.

Bisa jadi orang tuaku menganut ungkapan banyak anak banyak rezeki. Namun, pepatah yang dipercaya banyak orang tua itu, tidak berlaku buat keluargaku. Yang terjadi justru sebaliknya, kesejahteraan aku dan saudaraku malah tidak terjamin.

Dulu, orangtuaku sempat kaya. Bapak bekerja di sebuah kapal pesiar di Singapura. Gajinya cukup besar, apalagi waktu itu masih jarang orang bekerja di kapal pesiar. Selain itu, Bapak pernah menjadi kontraktor untuk proyek-proyek besar, termasuk pembangunan gedung Sarinah Jakarta. Bahkan, Bapak pernah jadi manajer keuangan di sana.

Memang, orang tua juga berinvestasi dalam bentuk perhiasan dan tanah. Namun, selebihnya kurang begitu dipikirkan, misalnya saja dalam bentuk tabungan uang. Ya, hidup dalam kondisi berkecukupan membuat keluargaku terlena.

Tanpa bermaksud meremehkan tatanan sosial masyarakat kita, terutama orang-orang kaya di daerah, aku merasa pentingnya pendidikan tidak terbetik dalam benak mereka. Begitu pula dengan keluargaku. Kakak-kakakku keenakan menikmati hidup karena kekayaan orang tua.

Pada saat bersamaan, orang tua juga tidak mendorong pendidikan anak-anaknya. Jadilah, kakak-kakakku hanya sekolah sampai SMP atau SMA. Sayang sebetulnya, mengingat kakak-kakakku termasuk cerdas.

Cari orangtua gadungan:

Suatu hari, masalah besar menimpa keluargaku. Tak perlu kuceritakan detailnya. Yang jelas, masalah itu sampai membuat kedua orang tuaku sempat berpisah. Sejak itu, keadaan ekonomi keluarga menjadi goyah. Maklum ya, selama ini Bapaklah penopang finansial keluarga. Sementara, Emak hanya ibu rumah tangga biasa, yang mendadak harus jadi single parent.

Anak-anak yang belum mandiri ikut Emak. Usiaku baru tujuh tahun waktu itu, sedangkan adikku, Ida, masih lima tahun. Aku ingat, untuk menghidupi anak-anaknya, Emak berbisnis kecil-kecilan, antara lain berjualan kain. Untung sudah ada kakak-kakakku yang bekerja, sehingga bisa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Halaman
123
Editor: Sudarwan
Sumber: Nova
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved