Workaholik Sebaiknya Diterapkan Sebelum Menikah
Perempuan yang terlalu cinta akan pekerjaannya dinilai bisa menomorduakan peran sebagai isteri dan seorang ibu.
Penulis: Refli Permana | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM --- Perempuan yang terlalu cinta akan pekerjaannya dinilai bisa menomorduakan peran sebagai isteri dan seorang ibu.
Karena sifatnya yang workaholik tersebut, ada kalanya mengurus suami dan anak terabaikan karena mengejar menyelesaikan pekerjaan demi tuntutan karir. Tak heran, banyak persoalan rumah tangga muncul karena dipicu oleh faktor ini.
Untuk mencegah hal tersebut, sejumlah perempuan di Palembang yang belum menikah memutuskan untuk mengejar karir selagi mereka sebelum menjalin rumah tangga.
Apabila tiba waktu untuk diikat secara resmi oleh seorang pria, perempuan pekerja ini sudah berkomitmen untuk menomorduakan pekerjaan karena keluarga merupakan urusan prioritas.
"Selagi masih sendiri, saya ingin kerja keras mendapatkan posisi tinggi di kantor. Jadi, begitu sudah menikah, tidak ada lagi target yang ingin dikejar sehingga bisa fokus mengurus keluarga," kata salah satu karyawati swasta di Palembang, Weny, Selasa (24/5).
Sebab itu, Weny mengungkapkan, dirinya kebanyakan membawa pekerjaan sampai ke rumah untuk diselesaikan.
Ia mengakui sedikit kurang memperhatikan kesehatan karena sering kali tidur larut supaya pekerjaan di hadapannya bisa segera selesai sesuai target dari atasan. Atas alasan ini pula, cewek berusia 25 tahun ini belum kepikiran untuk menjalin hubungan serius.
Rika juga memiliki komitmen yang sama. PNS di lingkungan Pemprov Sumsel ini sering membawa tugas hingga ke rumah untuk diselesaikan.
Meski terkadang tidak dibebankan target oleh pimpinan, Rika merasa tugas yang diberikan kepadanya alangkah enaknya jika bisa diselesaikan dalam waktu secepat mungkin. Ia bertekat, sebelum menikah, sudah mendapatkan posisi yang strategis.
"Supaya tidak banyak lagi tugas karena saya sekarang pegawai yang termasuk golongan paling rendah. Sebab itu, ingin terus berprestasi sembari melanjutkan pendidikan ke jenjang S2," kata perempuan 27 tahun ini.
Salah satu psikolog di Palembang, Muhammad Uyun, mengatakan perempuan workaholik memang ada kalanya memicu konflik internal di rumah tangga.
Sebab itu, ia menyarankan, alangkah baiknya perempuan yang sudah menikah lebih memprioritaskan keluarga dan tidak membawa urusan pekerjaan hingga ke rumah.
"Apabila memang ingin mengejar karir, lakukanlah di saat belum menikah. Jika target dalam suatu jabatan sudah didapat, begitu menjalin rumah tangga, bisa fokus menjalankan tugas sebagai isteri dan ibu," kata ketua Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) wilayah Sumsel ini.(refly permana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/workaholik_20160525_010649.jpg)