Liga Santri Nusantara

RMI NU Sumsel Aktif Membina Pesepakbola Santri Bersama Kemenpora

"RMI bekerjasama dengan Kemepora menyelenggarakan Liga Santri Nusantara, dan sebagian besar di Sumsel khususnya

RMI NU Sumsel Aktif Membina Pesepakbola Santri Bersama Kemenpora
Istimewa/facebook
Ketua RMI NU Sumsel Hendra Zainuddin 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG-Digelarnya Liga Santri Nusantara (LSN) II 2016 ini, setelah sukses digelar LSN I 2015 lalu, membuat ajang ini menjadi salah satu program unggulan untuk mencari pesepakbola berbakat.

Untuk diketahui, even ini digelar karena program Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) bekerjasama dengan RMI (Rabithah Ma'ahid Islamiyah) atau Asosiasi Pondak Pesantren se-Indonesia Nahthatul Ulama. Sementara di Sumsel-Lampung adalah Region (wilayah) V Sumatera, yang dikoordinir RMI NU Sumsel, yang diketuai Ustadz Hendra Zainuddin.

"RMI bekerjasama dengan Kemepora menyelenggarakan Liga Santri Nusantara, dan sebagian besar di Sumsel khususnya, kebanyakan Ponpes memang berbasis NU," ujar Hendra, Selasa (24/5/2015).

Apa itu Rabitah Ma,Ahid Islamiyah (RMI) atau kerap dikenal dengan sebutan Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia, adalah lembaga Nahdlatul Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 23.000 buah di seluruh Indonesia. Lembaga ini lahir sejak Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma’ahid al-Islamiyah yang dibidani oleh KH Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid.

Sepertid ilansir dari muslimadianews.com, bahwa Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma’ahid Islamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan.

Maka, disinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk Negeri. Rabithah Ma’ahid Islamiyah berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu, dan pengembangan masyarakat.

Sehingga dalam pondok pesantren pendidikan, yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur.

Pondok pesantren merupakan wadah santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun dibawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), I’tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpihak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum.

Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kyai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kyai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bias sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri, dan kitab kuning) bersifat subside, dibawah kendali kyai. Dengan unsure-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Nilai-nilai yang menjadi budaya Rabithah Ma’ahid Islamiyah adalah kreatif, harmonis, amanah, responsive, intelek, sederhana, mandiri, dan aktif yang dapat disingkat Kharisma 2015.

Halaman
12
Penulis: Hendra Kusuma
Editor: Hendra Kusuma
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved