Air Sungai Rupit dan Batang Empu tak Layak Konsumsi

Kondisi air sungai Rupit dan sungai Batang Empu yang melintasi beberapa desa dalam Kecamatan Karangjaya kini warnanya keruh kemerah-merahan, bercampur

SRIPOKU.COM, MURATARA -- ‎Warga beberapa desa di Kecamatan Karangjaya Kabupaten Musirawas Utara (Muratara) kini mengeluhkan kondisi air sungai Rupit dan sungai Batang Empu yang melintasi wilayah mereka tidak lagi bersih. Air sungai dalam beberapa bulan terakhir ini sepertinya berubah warna. Air sungai yang dalam kondisi normal berwarna jernih, kini berwarna keruh dan kotor. Dampaknya, kini warga kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Pantauan Sripoku.com, kondisi air sungai Rupit dan sungai Batang Empu yang melintasi beberapa desa dalam Kecamatan Karangjaya kini warnanya keruh kemerah-merahan, bercampur tanah. Menurut warga, kondisi seperti ini sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir ini.

"Sekarang air sungai memang keruh dan kotor. Biasanya, kalau air keruh akibat sungai pasang, tapi kalau diangkat pakai ember masih kelihatan jernihnya. Sekarang tidak lagi, kalau digayung, warnanya keruh kotor," kata Muchtar (48), salah seorang warga Rantautelang Kecamatan Karangjaya.

‎Karena kondisi air sungai kini sangat keruh dan kotor, maka sebagian warga yang biasanya memanfaatkan air sungai untuk mandi dan mencuci serta untuk keperluan memasak, kini kesulitan mendapatkan air bersih. Sebab, kondisi air sungai sudah tidak layak untuk digunakan dan dikonsumsi.

"Kalau tetangga disekitar rumah kami, sekarang mengambil air di sumur kami untuk memasak. Karena, air sungai sekarang memang sangat kotor dan keruh. Air biasanya kalau keruh, diangkat masih ada jernihnya. Sekarang tidak kelihatan lagi beningnya. Ini bukan lagi keruh, sudah merah seperti tanah," ungkap Dawi, salah seorang warga lainnya.

Menurut penuturan warga, diduga air sungai kini berubah menjadi keruh dan kotor, dampak dari pembukaan lahan secara besar-besaran untuk dijadikan areal perkebunan. ‎Sebab, saat ini masuk perusahaan skala besar dan membuka lahan, dibagian hulu sungai. Sehingga, saat musim hujan, hutan yang sudah gundul karena dibabat untuk perkebunan, tanahnya turun ke sungai dan mencemari air sungai. Adanya kegiatan penambangan galian C dibagian hulu desa, juga diduga menjadi penyebab tercemarnya air sungai.

"Sekarang ini, musim hujan atau tidak hujan sama saja. Air sungai tak pernah lagi jernih. ‎Keruh, sudah berbulan-bulan ini. Tidak layak lagi digunakan," ungkap warga lainnya.

Penulis: Ahmad Farozi
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved