Breaking News

Saat Anak Lain Bersekolah, Ian Berjibaku Jajakan Koran

Nasib Ian dan teman-temannya hanya bergantung di perempatan lampu merah.

Penulis: Yuliani | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM/YULIANI
Potret kehidupan anak-anak putus sekolah di simpang lampu merah RS RK Charitas. Beberapa dari mereka ada yang menjadi pengecer koran, pedagang asongan bahkan meminta-minta kepada pengendara yang berhenti saat lampu merah. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei hari ini masih banyak menyisakan cerita bagi anak-anak, terutama yang putus sekolah. Termasuk Ian, seorang pengecer koran yang biasa mangkal di simpang lampu merah RS RK Charitas. Saat semua anak seusianya sibuk ikut upacara peringatan Hardiknas, Senin (2/5/2016), anak berusia 12 tahun ini malah sibuk menjajakan korannya saat kendaraan berhenti di lampu merah.

Ian tak sendiri. Beberapa anak yang lebih muda dari usianya juga sibuk berpencar di lampu merah sembari menawarkan koran dan asongan. Di tengah persaingan pengecer orang dewasa yang kian banyak, anak-anak ini tetap berjibaku menawarkan koran berharap sang pengendara berhenti untuk membeli dagangan mereka.

"Saya cuma sekolah sampai SD. Selanjutnya tidak nyambung lagi. Makanya bantu bapak jual koran saja," ungkap Ian.

Keinginan melanjutkan sekolah tersebut sangat besar, apalagi setiap pagi ia melihat anak-anak seusianya berseragam putih biru naik bus kota. "Kata bapak biaya sekolah memang gratis. Tapi mau beli baju, sepatu, tas, buku dan lainnya itu yang mahal. Jadi lebih baik sekarang cari uang dulu," jelasnya.

Nasib Ian dan teman-temannya hanya bergantung di perempatan lampu merah. Sebab baginya sekolah cuma mimpi dan bagi mereka yang punya uang saja.

"Kalau sudah banyak uang saya tetap mau sekolah. Biar nanti bisa dapar kerja yang bagus dan gajinya besar," ungkapnya sambil tertawa.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel, Drs Widodo MPd mengatakan, momentum Hardiknas ini menjadi titik kesadaran setiap orang akan pentingnya pendidikan bagi seluruh anak Indonesia. Pasalnya, lewat pendidikan inilah semua keinginan dan harapan akan cita-cita dapat diwujudkan dengan sebaik-baiknya.

"Untuk di Sumsel, masih ada sebagian anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan. Kalau dihitung ada sebanyak 12 persen anak di Sumsel yang dinyatakan belum bisa mengenyam pendidikan seutuhnya,” ujarnya usai menghadiri upacara Hardiknas di lapangan DPRD Palembang.

Untuk mengurangi angka tersebut, pihaknya akan mendorong para anak-anak yang putus sekolah agar mereka bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak seperti pelajar pada umumnya. Pastinya, hal ini juga tak terlepas dari peran dan sosok guru yang juga harus mampu memberikan pengajaran dan pendidikan yang baik pula.

"Dalam pelaksanaan Undang Undang 78 tentang peralihan pengeloalan SMA/SMK ke provinsi, diharapkan bisa menjadi jalan keluar dalam permasalahan pemerataan guru. Dengan inilah kita harapkan bisa memetakan akan keperluan guru disetiap kabupaten nantinya sehingga tidak ada lagi kekurangan dan kelebihan tenaga pendidik,” terangnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved