Atlet Sumsel Teriak: Kami Diminta Sabar, Tapi Sampai Kapan
Imbas dari belum terbentuknya pengurus berdampak dengan tidak jelasnya gaji atlet.
Penulis: Candra Okta Della | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Target Sumatera Selatan (Sumsel) untuk masuk 10 besar rangking Pekan Olaharaga Nasional (PON) di Jabar, September mendatang tampanya bakal tercapai. Saat ini ratusan atlet yang masuk dalam program Pelatihan Daerah (Pelatda) PON, mulai berteriak dan mengaku kecewa dengan sikap pemerintah daerah yang seakan tak begitu peduli dengan perkembangan latihan mereka menuju prestasi tertinggi di PON.
Imbas dari belum terbentuknya pengurus berdampak dengan tidak jelasnya gaji atlet, bahkan sarana latihan atlet, membuat atlet terpaksa berlatih dengan peralatan apa adanya.
Seorang atlet mengaku, selama ini dirinya merasa tak ada yang mengurus. Mereka berlatih sendiri, dengan peralatan apa adanya. Membeli vitamin sendiri, bahkan semua itu mereka lakukan dengan resiko meninggalkan pekerjaan dan pendidikan mereka.
"Kami diminta bersabar, sabar sampai kapan. Ini sudah bulan April, kami masuk disini Februari. PON bulan September. Kami sebagai atlet tugas kami berlatih, digaji tak digaji kami berlatih. Tapi ada kebanggaan membela Sumsel, tapi mohon juga perhatikan kami. Kami perlu uang untuk membeli vitamin, membeli baju latihan, membeli alat latihan," ujarnya, Minggu (10/4/2016).
Dikatakan atlet tersebut, ia dan teman-temannya dituntut untuk berprestasi. Kalau tidak berprestasi akan dicoret. Disadari bahwa hal itu adalah sebuah konsekuensi.
"Itu sudah konsekuensi dan kami paham itu. Tapi, jalan menuju berprestasi itu bukan sekedar dengan diberi tempat tidur dan diberi makan," katanya.
"Siapa yang tak mau meraih prestasi. Kalau ada satu saja, kami siap dicoret. Tapi apa yang diberikan Pemerintah untuk kami. Semua gak jelas, kami diminta sabar, padahal setiap hari program makin berat dan tak jarang cedera. Apa kami masih disuruh tetap sabar, sementara pemerintah mengejar prestasi tidak sabar," paparnya
Saat ini, terhitung atlet Satlak Sumsel Gemilang sudah empat bulan tak gajian. Begitu juga dengan atlet PON yang belum jelas akan menerima uang saku seperti apa. Padahal, setiap atlet memerlukan uang untuk setiap kali latihan. Contohnya menembak, sangat memerlukan peluru, ski air memerlukan bensin. Bahkan ironisnya, untuk cabang beladiri seperti wushu atau karate mereka terpaksa latihan menumpang ke cabor lain lantaran tak ada gedung beladiri sendiri.
Sementara itu, setelah dua minggu usai Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumsel, kepengurusan KONI 2016-2020 belum terbentuk. Padahal, dalam Musorprov sesuai dengan aturan tata tertib Ketum terpilih hanya diberikan waktu dua minggu, sehingga jeda tidak terlalu lama. Apalagi, saat ini ratusan atlet yang disiapkan untuk PON masih galau karena belum jelasnya kepengurusan, yang berimbas ke uang pembinaan mereka yang belum juga dibayar.