Delapan Profesi Yang Ikut Bersaing di Era MEA

Delapan profesi tersebut, insiyur, arsitek, tenaga pariwisata, akuntan, perawat, praktisi medis, dokter gigi, dan tenaga survei.

Penulis: Rahmaliyah | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM/RAHMALYAH
Duta Besar Indonesia Untuk Thailand, Lutfi Rauf, Dekan FISIP Unsri, Prof Dr Kiagus Muhammad Sobri, MSi, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Dirjen IKP) Kementerian Kominfo, Rosita Niken Widiastuti (baju biru), Moderator Forum Dialog. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Sejak 31 Desember 2015 lalu, Indonesia termasuk dalam ke-9 negara yang berada di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sosialisasi akan hadirnya pasar bebas pun sudah sejak lama digaungkan.

Namun nyatanya, hingga kini baru 20 persen saja masyarakat yang mengetahui tentang MEA.

"Berdasarkan hasil survei baru 20 persen yang tahu tentang MEA. Namun, masyarakat belum mengetahui apa yang harus dilakukan selama era MEA ini, peluang apa yang bisa didapatkan dari memanfaatkan era pasar bebas yang masuk di Indonesia," ujar Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Dirjen IKP) Kementerian Kominfo RI, Rosita Niken Widiastuti, saat menjadi pembicara dalam Forum Dialog Bertema Memanfaatkan Peluang Dalam MEA di Hotel Grand Zuri, Selasa (29/3).

Untuk itu, lanjut Rosita, perlu adanya peranan dari media massa untuk mengedukasi masyarakat seperti apa menghadapi MEA. Baik memanfaatkan peluang yang ada dan tantangan apa saja yang akan dihadapi dari era MEA tersebut.

"Inilah tujuan digelarnya forum dialog ini. Diharapkan media massa khususnya media yang ada di Sumsel dapat berperan aktif dalam menginformasikan, sehingga masyarakat pun bisa memiliki pengetahuan dan pencerahan terhadap MEA serta mengetahui peluang ekonomi yang semakin luas," tambahnya.

Padahal dengan adanya era MEA tersebut lanjutnya, peluang pelaku usaha ataupun tenaga kerja Indonesia untuk lebih besar. Rosita pun menyayangkan, 80,8 Persen khususnya pelaku usaha tak mengetahui adanya penghapusan tarif ekspor dan impor.

"Namun, yang perlu juga diperhatikan adalah merubah mindset masyarakat. Mereka pesimis jika hadirnya MEA ini akan berpengaruh tak baik seperti berimbas pada para pelaku bisnis lokal atau produk-produk lokal," jelasnya.

Sementara itu, Lutfi Rauf, Duta Besar Indonesia untuk Thailand menambahkan, bahkan di era MEA saat ini ada delapan jenis profesi yang turut bersaing.

"Jadi tak hanya produk lokal yang bersaing, tenaga kerja pun sama. Delapan profesi tersebut, insiyur, arsitek, tenaga pariwisata, akuntan, perawat, praktisi medis, dokter gigi, dan tenaga survei," paparnya saat mengisi materi dalam forum dialog.

Selain Lutfi Rauf dan Rosita Niken Widiastuti yang menjadi pembicara, Dekan FISIP Unsri, Prof Kiagus Muhammad Sobri MSi juga turut hadir dan memberikan materi pada awak media lokal yang menjadi peserta forum.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved