Gerhana Matahari Total 2016

PT Pusri Akui Masih Beroperasi Saat Momen GMT

beberapa masyarakat awam menganggap kalau gumpalan uap atau steam itu menyerupai asap dan telah menutupi sinar matahari.

PT Pusri Akui Masih Beroperasi Saat Momen GMT
Facebook/Dina Puji Anjani Alkahfi
Sinar matahari yang tampak tertutupi oleh gumpalan asap yang berasal dari pabrik PT Pusri dan diklaim sebagai uap atau steam, Rabu (9/3/2016) pagi 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Manager Humas PT Pupuk Sriwijaya (Pusri), Sulfa Ganie membantah anggapan masyarakat yang menduga Gerhana Matahari Total (GMT) tak bisa disaksikan secara maksimal karena tertutupi oleh asap limbah dari PT Pusri.

"Itu bukan asap pabrik, pabrik Pusri tak pernah menghasilkan asap, selama ini yang dilihat masyarakat adalah uap atau steam," ungkapnya saat dikonfirmasi melalui telpon, Rabu (9/3/2016).

Terlepas apakah itu asap atau bukan, tapi dari pantauan selama proses GMT, beberapa masyarakat awam menganggap kalau gumpalan uap atau steam itu menyerupai asap dan telah menutupi sinar matahari.

Sulfa pun mengakui, saat momen GMT berlangsung, pabrik beroperasi maksimal serta dalam kondisi baik.

Bahkan, pada saat yang bersamaan, baik karyawan yang tengah bekerja di pabri atau gedung Pusri dan pihak Balai Lingkungan Hidup (BLH) Pusri juga menyaksikan sembari mendokumentasikan GMT dan memantau proses kinerja pabrik.

"Masyarakat sebaiknya bisa melihat dari berbagai sudut, jangan hanya dari Jembatan Ampera atau BKB saja. Sehingga seolah-olah kepulan asap tersebut dihasilkan dari pabrik kami, sekali lagi pabrik tak menghasilkan asap," tegasnya.

Sebelumnya pada Rabu (2/3/2016), seperti dilansir dari korankito,com, Walikota Palembang, Harnojoyo mengatakan, pihaknya telah meminta Badan Lingkungan Hidup (BLH) untuk segera berkoordinasi dengan Pusri maupun Pertamina agar distop terlebih dulu asapnya, agar tidak mengganggu penglihatan proses terjadinya gerhana matahari total.

“Apalagi, jembatan Ampera menghadap matahari terbit dari timur, makanya kita meminta BLH untuk berkordinasi dengan pihak terkait. Harapan kita, asap jangan sampai menutupi pemandangan gerhana matahari, makanya pihak Pusri dan Pertamina agar menghentikan terlebih dahulu asapnya,” ujarnya usai menggelar rapat persiapan GMT.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata provinsi Sumatera Selatan, Irene Camelyn Sinaga menambahkan selain dapat mengganggu penglihatan asap juga tidak bagus buat pemberitaan, apalagi nantinya akan ada beberapa media nasional yang melakukan live reports.

“Asap dapat mengganggu penglihatan, dan tidak bagus muatan tidak bagus pemberitaan kalau adanya asap nanti. Nantinya, masalah teknis biar mereka yang mengatur, apakah cerobonh asap ditutup dahulu, atau bagaimana itu terserah mereka,” ujarnya. (*)

Penulis: Rahmaliyah
Editor: Darwin Sepriansyah
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved