Sandrina Fayza Rahmi, Satu dari Bayi Kembar Siam Dempet Perut, Hembuskan Nafas Terakhir

Beberapa saat sebelum prosesi pemakaman, Sripoku.com mencoba mendekatinya dan Lia tetap merespon hangat serta mau berbagi cerita.

Sandrina Fayza Rahmi, Satu dari Bayi Kembar Siam Dempet Perut, Hembuskan Nafas Terakhir
SRIPOKU.COM/SYAHRUL HIDAYAT
Kembaran siamnya Sabrina Fayza Rahma, hanya terdiam di gendongan sang bibi ketika melihat Rahmi terbungkus kain dan dibawa ke dalam mobil jenazah. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Rona kesedihan begitu terpancar dari wajah Lia Risdiana, ibu bayi kembar Sabrina Fayza Rahma dan Sandrina Fayza Rahmi (Ama-Ami). Langkah wanita yang membesarkan Ama Ami dengan mandiri ini lunglai, mengikuti iring-iringan Ambulan yang mengangkut anak bungsunya, Ami dari rumahnya, Kamis (11/2/2016). Dengan sigap beberapa keluarga langsung memapahnya untuk mengikuti proses pemakamam, yang berlangsung pukul 13.10 di TPU Kamboja Palembang.

Beberapa karangan bunga pun langsung terlihat di kediamannya yang terletak di Lrg Kopral Daud Jln Jenderal Sudirman. Para pelayat pun silih berganti berdatangan menyampaikan belasungkawa. Cuaca saat itu tengah mendung, namun tidak menyurutkan mereka untuk datang dan mengiringi pemakaman Ami.

Beberapa saat sebelum prosesi pemakaman, Sripoku.com mencoba mendekatinya dan Lia tetap merespon hangat serta mau berbagi cerita prihal kepergian buah hatinya.

"Saat Rabu malam keduanya (Ama Ami) batuk pilek namun Ami duluan. Kami coba rawat dulu dan tetap mengasuhnya hingga kembali sehat," ujarnya.

Namun keesokan hatinya, batuk dan pilek tersebut bertambah hebat. Bahkan nafas Ami pun sudah mengeluarkan bunyi seperti orang sesak. Barulah pada hari Jumat ia dan keluarganya membawa Ama Ami ke RSMH. "Kalau Ama masuk sel anak, sedangkan Ami langsung dapat penanganan dengan masuk ICU. Kondisinya stabil, normal, dan sempet minta makan. Namun tidak boleh. Bahkan untuk minum pun cuma boleh dietesi saja," jelasnya.

Rasa cemas kembali menghinggapi Lia karena pada Sabtu kondisi Ami kian drop dan kritis. Hingga Kamis kemarin Ami tak sadarkan diri. "Dokter sudah bilang, bahwa kami harus ikhlas. Karena kondisinya sudah 1 persen. Hingga pukul 11.30 Ami pun dipanggil Allah," ujarnya.

Saat di rumah sakit, Lia pun harus bergilir dari sel anak menengok Ama dan ke ICU menengok Ami. Lia menambahkan, sebelum meninggal kondisi Ami sangat menyedihkan. Beberapa selang penunjang kehidupan terpasang di kepalanya. Bahkan saat Ami tak sadar, beberala alat medis lain termasuk oksigen terpasang di tubuhnya.

"Kondisinya sangat kritis. Bahkan dokter sempat memberikan tindakan untuk memompa dadanya. Sayangnya Tuhan terlalu sayang pada Ami, dan harus pergi meninggalkan kita semua," ujarnya.

Lia menjelaskan, berdasarkan keterangan dari dr Silvia Tri Ratma SpA (K), yang menangani putrinya, Ami mempunyai kelainan ginjal dan jantung. Maka itu pembuluh darahnya pecah. Apalagi Ami hidup dengan 1 ginjal.

"Saya ikhlas, mungkin Allah terlalu sayang pada Ami. Padahal sebentar lagi ia dan kakaknya akan berulang tahun yang keempat," ungkapnya sedih.

Sementara itu, Dokter Anak yang menangani Rahmi, Silvia saat dikonfirmasi mengatakan jika pihak media lebih baik berkoordinasi dengan Humas RS. Pasalnya, penanganan terakhir pada Rahmi dilakukan oleh Dokter di ICU.

"Saya tidak bisa menjelaskannya, silahkan komunikasi bersama Humas. Jika saya yang menjelaskan, sama saja saya membuka riwayat kesehatan pasien saya, itu tidak diperbolehkan," ujarnya.

Penulis: Yuliani
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved