Pengamat: Ubi Racun Keuntungan Sementara
Komoditi karet masih sebagai komoditi andalan atau unggulan Indonesia dan dunia masih menjadikan karet di Indonesia sebagai pasokan produksi
Penulis: Welly Hadinata | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Ramainya kalangan petani yang beralih bercocok tanam menamam ubi racun atau singkong karet sebagai bahan, merupakan hal yang wajar bagi untuk mencari keuntungan.
Terlebih lagi harga karet dan sawit yang tidak stabil, sehingga banyak petani yang beralih menanam ubi racun.
Kepada Sripoku.com Selasa (9/2/2016), Pengamat Ekonomi Prof Dr H Sulbahri Madjir SE MM mengatakan, kalangan petani harus berpikir jika memang benar beralih untuk menjadi petani ubi racun.
Perlu diketahui, komoditi karet masih sebagai komoditi andalan atau unggulan Indonesia dan dunia masih menjadikan karet di Indonesia sebagai pasokan produksi dari bahan karet alam.
Sedangkan untuk ubi racun itu, sebenarnya memang sudah ada petani yang fokus dengan bercocok tanam ubi racun.
"Jika memang petani banyak yang menanam ubi racun itu memang bagus, karena dari segi ekonominya memperoleh keuntungan yang cepat dengaan masa panennya di bawah setahun. Namun sangat disayangkan jika memang ada petani yang membabat habis kebun karet atau sawit hanya untuk menanam ubi racun," ujarnya.
Dari segi ekonomi saat ini, Sulbahri mengatakan, memang panen ubi racun sangat menguntungkan petani.
Dengan harga yang cocok dan berapa pun hasil panen dapat dijual. Namun memang saat ini harga karet tidak stabil, sehingga ada petani yang beralih ke ubi racun tanpa memperhitungkan kebun karetnya untuk kedepannya.
"Petani harus harus paham, jangan sampai seperti tahun 70-an kembali terulang. Ketika itu banyak petani karet yang beralih menanam kopi, karena harga jual karet itu sedang anjlok. Namun setelah beberapa tahun berikutnya, justru harga kopi yang anjlok dan harga karet melampung. Namun petani tidak bisa menjual karetnya karena sudah tidak ada lagi," ujarnya.
Sulbahri menyarakan kepada kalangan petani, jika memang harus beralih menanam ubi racun, agar sifaatnya sementara saja. Karena tidak diketahui kedepannya apakah harga dan permintaan dengan ubi racun selalu stabil.
"Tetap pertahankan kebun karet, jika sudah terlanjur dibabat, segera kembami menanam bibit karet. Memang harga karet selalu berubah tergantung permintaan. Kaalau saat ini bolehlah petani untuk beralih menanam ubi racun, tapi diharapkan sifatnya hanya untuk sementara waktu saja," ujarnya.