Inilah Para Penguasa Kesultanan Palembang

Raja-raja Palembang secara turun-temurun memakai gelar Sultan dengan nama-nama yang bersumber dari agama Islam.

Tayang:
Penulis: Aminudin | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM/DOKUMEN
Makam Pangeran Hindi, salah satu keturunan raja-raja Palembang di komplek pemakaman Candi Walang. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Raja-raja Palembang secara turun-temurun memakai gelar Sultan dengan nama-nama yang bersumber dari agama Islam. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi sultan adalah susuhunan memiliki pegawai yang secara tradisional diambil dari kelas priyayi.

Palembang resmi bercorak kesultanan yang merdeka dan berdaulat di bawah penguasa Pangeran Ario Kesuma dengan gelar Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam, kemudian diganti kan oleh puteranya bernama Raden Ario bergelar Pangeran Ratu Senopati Ing yang lazim disebut Jayo Ing Lago (1703). Ketika ia dinobatkan menjadi Sultan pada tahun 1706, dipakainya gelar Sultan Muhammad Mansur (1706-1714).

Pada tahun 1709 Sultan Muhammad Mansur menobatkan putranya, Raden Abubakar menjadi Pangeran Ratu Purboyo. Pewaris mahkota ini tidak sempat menjadi raja karena terus dianiaya. Sebagai gantinya diangkatlah adik Susuhunan Muhammad Mansur yaitu Raden Uju sebagai wali. Akan tetapi Raden Uju mengangkat dirinya sebagai Sultan Palembang Darussalam ketiga dengan gelar Sultan Komaruddin Sri Truno (1714-1724).

Hal ini menimbulkan perselisihan dengan kedua kemenakannya, hingga kedua kemenakannya itu, Pa ngeran Depati (kemudian diangkat menjadi pangeran Mangkubumi Muhammad Ali), dan Raden Lambu meninggalkan Palembang. Pada tahun 1719 perselisihan itu reda dengan kembalinya mereka ke Palembang.

Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Sultan Anom Muhammad Alimuddin (1720-1724) yang ber kedudukan di Kebon Gede, sedangkan Raden Lambu menjadi Pangeran Ratu Jayo Wikramo. Sultan Komaruddin Sri Truno menjadi Sultan Sepauh dengan gelar Sultan Agung Komaruddin Sri Truno.

Kemudian diadakanlah sayembara untuk menentukan siapa yang akan menduduki tahta, ternyata sa yembara dimenangi Pangeran Ratu Jayo Wikramo. Ia dinobatkan sebagai Sultan Palembang dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin I )1724=1758) dan bergelar Susuhunan pada bulan Agustus 1744.

Adanya dua penguasa pada satu kerajaan dalam satu masa tentu sangat tidak menguntungkan. Sultan Anom dan Sultan Mahmud Badaruddin I masing-masing meminta bantuan kepada VOC, dan dalam perselisihan ini VOC memihak kepada Sultan Mahmud Badaruddin I.

Hal ini tidak diketahui oleh Sultan Anom . Makanya, ketika diberitahukan bahwa kapal-kapal VOC datang ke daerahnya, ia bermaksud menyambutnya dengan tembakan kehormatan. Namun sayang, ternyata rombongan VOC justru menyerbu keraton sehingga Sultan Anom terpaksa harus menyingkir bersama keluarganya.

Sultan Palembang yang keenam adalah Pangeran Adikesuma, putra kedua Sultan Mahmud Badaruddin I, adik Pangeran Ratu Jailani. Pangeran Adikesumo memakai gelar Sultan Ahmd Najamuddin I dan memerintah dari tahun 1758-1776.

Sultan Ahmad Najamuddin I pada tahun 1775 mengangkat salah seorang putranya menjadi Sultan. Sultan baru ini bernama Sultan Muhammad Bahauddin atau Sultan Meruhum. Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 16 Desember 1776, Susuhunan Ahmad Najamuddin I wafat.

Sultan Muhammad Bahauddin memerintah dari tahun 1776 hingga tahun 1803. Sultan ketujuh Kesul tanan Palembang Darussalam ini wafat pada hari Senin tanggal 21 Zulhijjah 1218 H (3 April 1803) setelah memerintah selama 27 tahun.

Pengganti Sultan Muhammad Bahauddin ialah putra sulungnya yang bernama Pangeran Ratu Hasan dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin II. Pada tahun 1811 Sultan Mahmud Badaruddin II meme rintahkan untuk menyerbu loji Belanda di Sungai Aur, namun kemudian datanglah Inggris menyerbu Palembang.

Sultan Mahmud Badaruddin II hijrah dari Palembag ke pedalaman untuk meneruskan perlawanan. Sebe lumnya ia mewakilkan pemerintahan kesultanan kepada adiknya yang bernama Raden Husen yang ber gelar Pangeran Adi Menggalo.

Dalam daftar raja-raja Palembang hingga tahun 1811 terdapat empat raja yang bergelar Susuhunan, delapan raja bergelar Sultan, dan enam orang ahli waris dengan gelar Pangeran Ratu.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved