Hati-hati! Anak Ini Harus Dioperasi karena Bawa Beban Berat pada Tas Sekolah
"Saya memohon kepada Anda semua, jangan biarkan anak-anak Anda mengangkat tas sekolah yang berat di punggung mereka,"
Penulis: Darwin Sepriansyah | Editor: Darwin Sepriansyah
SRIPOKU.COM --- November 2014 lalu, akun facebook asal Malaysia, Zahir Ali, mengunggah beberapa foto keponakannya yang mengalami masalah tulang belakang.
Kini foto yang tersebar di jejaring sosial itu telah dishare sebanyak 107,541 kali di situs Facebook.
"Moga gambar-gambar ini menyadarkan para orang tua yang memiliki anak-anak bersekolah di sekolah dasar,"
"Gambar-gambar berikut menunjukkan keponakan saya yang masih berada di sekolah dasar,"
"Akibat selalu membawa tas yang berat serta penuh dengan buku, dia mulai berjalan dalam keadaan membungkuk dan mengeluh sakit punggung,"
"Ketika dibawa bertemu dengan dokter, dia harus menjalani operasi untuk mengembalikan tulang belakangnya pada kondisi normal,"
"Saya memohon kepada Anda semua, jangan biarkan anak-anak Anda mengangkat tas sekolah yang berat di punggung mereka," katanya.
Postingan ini pun mendapat tanggapan beragam dari para netizen, yang sebagian besar juga ikut mengeluhkan anak-anak sekolah dasar sekarang dibebankan dengan buku-buku pelajaran yang banyak.
Sebagai solusinya, sebagian netizen memberikan solusi agar pihak sekolah dapat menyediakan loker bagi para siswanya. Sehingga, siswa pun dapat mengatur buku-buku mana saja yang penting untuk dibawa ke rumah ataupun ditinggalkan sementara di sekolah.
Namun, ada segelintir netizen juga yang berpendapat bahwa apa yang terjadi pada keponakan Zahir Ali itu sebenarnya adalah Skoliosis, penyakit tulang belakang. Dimana, penyakit scoliosis ini adalah penyakit keturunan.
Belajar dari fenomena tersebut, tabloidnova.com pernah mencoba mengukur total berat tas yang rata-rata harus dipikul anak setiap harinya.
Ternyata, sekitar 8 sampai 10 kilogram adalah berat tas punggung yang mungkin ada di area punggung mereka, ini belum ditambah dengan kotak bekal makanan atau botol minuman serta peralatan tambahan lain seperti baju olahraga dan sebagainya.
Nah, apa dampak beban berat pada tas punggung sekolah anak ?
“Tas punggung menyimpan bahaya, ini bisa terjadi jika pemakai tas punggung tidak disiplin. Sesuai namanya, beban tas punggung diletakkan di punggung, namun tidak pada praktiknya. Kadang anak-anak sering menyatukan kedua cangklong tas lalu membebankannya pada salah satu bahu saja. Nah, ini yang bikin tas punggung jadi tidak sehat,” ujar J. Hardjono, SKM, MARS, RPT, Dekan Fakultas Fisioterapi Universitas Indonusa Esa Unggul.
Pilihan cangklong lebar pada tas punggung mampu memberi beban secara lebih merata pada bahu, dilengkapi bantalan agar beban tidak menghambat peredaran darah.
Sebaliknya, tas dengan tali kecil, bebannya jelas hanya terfokus pada satu daerah yang sempit sehingga kerja pada daerah tersebut terasa sangat berat. Ini hanya cocok untuk gaya-gayaan atau jalan ke mal.
Menurut American Pediatrician, beban yang mampu diangkat oleh anak-anak adalah 10-20 persen dari berat tubuhnya. Anak-anak adalah individu yang masih bertumbuh.
Pertumbuhan tulang mereka berlangsung hingga usia 9 sampai 14 tahun. Jika dalam usia itu terjadi gangguan pada tulang, maka pertumbuhan tulang pun akan terganggu.
“Saat anak mengangkat beban melebihi batas kemampuannya, mereka justru cenderung mengambil posisi membungkuk. Ini membuat anak akan menumpukkan bebannya pada salah satu bahu. Bahu cenderung ikut turun mengikuti arah gravitasi beban. Nah, kalau ini berlangsung lama, punggung anak bisa membengkok ke samping akibat kelainan rangka tubuh atau skoliosis,” terang Hardjono seputar dampak beban berat di tas punggung sekolah anak pada tabloidnova.com.
Kekeliruan dalam memakai ransel atau mengangkat beban berat akan menimbulkan repetitive injury atau cedera berulang, dan dampaknya bisa muncul saat dewasa nanti, seperti penyebab kelainan tulang pada anak di atas.
Secara lebih rinci, di pundak terdapat otot yang berhubungan dengan leher yaitu otot upper trapesius. Jika otot upper trapesius tertarik ke bawah karena beban, leher tetap menjulur ke depan.
Itulah sebabnya, orang yang membawa tas punggung jadi terlalu berat. Lehernya tampak sangat panjang. Akibatnya leher pun terasa tegang dan kaku.
Jadi, demi menghindari risiko cedera atau bahkan penyakit skoliosis sejak dini. Maka, sebaiknya sebagai orangtua kita mulai lebih fokus soal cara menjaga kesehatan tulang dan saraf anak tercinta. Setuju? (My Media Hub/Tabloid Nova)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ilustrasi-sakit-punggung_20160120_203711.jpg)