Stop Melaut, Husni Alih Kerja Jadi Tukang Bangunan

Stopnya aktivitas melaut para nelayan tersebut terlihat dari banyaknya kapal yang bersandar di dermaga yang berlokasi di kawasan 12 Ulu Palembang.

Stop Melaut, Husni Alih Kerja Jadi Tukang Bangunan
SRIPOKU.COM/RAHMALIYAH
Kapal-kapal nelayan yang bersandar di dermaga dikawasan 12 Ulu Palembang. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Intensitas hujan yang cukup tinggi disertai pula dengan tiupan angin kencang beberapa waktu belakangan, ternyata ikut membuat aktivitas melaut para nelayan terganggu. Bahkan, ada yang sampai harus menyetop aktivitas mencari ikan demi menghindari cuaca buruk saat ini.

Agar tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarga di rumah, para nelayan ini pun akhirnya beralih ke pekerjaan lain, sembari menunggu cuaca membaik. Contohnya saja Husni, warga kawasan 10 Ulu ini beralih menjadi tukang bangunan.

"Kurang lebih hampir sebulan sudah tak lagi melaut, terlebih lagi dengan kondisi cuaca seperti sekarang, ombak diperairan Natuna sedang tak bersahabat, tangkapan pun juga sekarang jauh berkurang, daripada biaya operasional membengkak, makanya sekarang stop dulu melaut," tuturnya, Selasa (19/1/2016)

Husni yang biasa melaut ke kawasan perairan Natuna ini juga mengatakan, jika usai bekerja jadi tukang bangunan, terkadang di sore harinya ia juga tetap melakukan aktifitas lain seperti memperbaiki jaring.

Selain itu, Husni dan kawan-kawan juga mengungkapkan, jika tetap dipaksakan untuk melaut khawatir boat atau kapalnya tidak mampu menahan hempasan ombak dan gelombang tinggi tersebut. Sehingga pada akhirnya membuat nelayan lebih memilih untuk kembali ke rumah masing-masing dan melakukan pekerjaan lain.

Stopnya aktivitas melaut para nelayan tersebut terlihat dari banyaknya kapal yang bersandar di dermaga yang berlokasi di kawasan 12 Ulu Palembang. Kapal-kapal tampak sepi dari aktivitas para awak kapal dan juga nelayan.

Selain Husni, Junaidi, Nelayan yang sering mencari Ikan di Perairan Selat Bangka saat ditemui Sripo juga mengatakan, semenjak cuaca buruk, hasil tangkapan sangat menurun drastis.

"Penurunan jumlah tangkapan tersebut benar-benar terasa dari penghasilan yang kami dapatkan, jika biasanya 7-10 hari melaut diwaktu cuaca normal bisa dapat peghasilan kotor capai Rp 10 juta, kini masih dalam kurun waktu yang sama, dapatnya cuma Rp 6 juta, kadang cuma Rp 3 juta. Itupun dibagi dengan awak kapal lain," ungkapanya.

Sementara itu, pengepul ikan dikawasan 12 Ulu yang enggan menyebutkan namanya juga membenarkan hasil tangkapan berkurang disebabkan cuaca buruk.

"Normalnya selama sebulan nelayan melaut hasil tangkapan bisa 5 ton, sekarang tak sampai 5 ton lagi. Lalu, sejak Desember 2015 saat ombak juga tinggi nelayan sudah stop melaut," tuturnya.

Penulis: Rahmaliyah
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved