Puluhan Warga Perumahan Bukit Sejahtera Poligon Tolak Keras Pembangunan Tower di Pemukiman

Pemasangan cor sekitar 3-4 hari selesai. Khawatir tiang roboh menciptakan risiko yang timbul.

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Perwakilan warga RT 15 RW 04 Perumahan Bukit Sejahtera Poligon memperlihatkan surat pernyataan penolakan pembangunan tower di pemukiman, Jumat (15/1/2016). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sedikitnya 33 warga Perumahan Bukit Sejahtera Poligon menolak keras atas dibangunnya pemasangan tower di belakang Komplek Pertokoan Bukit Sejahtera BA12 RT 15 RW 04 Kelurahan Karangjaya Kecamatan Gandus.

"Ini kita 33 warga yang merasa bakal terkena dampak langsung pembuatan tiang monopol antena komunikasi yang terletak di Fasum trotoar bahu jalan. Belakang Kompleks Pertokoan Bukit Sejahtera BA12. Anak buah saya sempat neken dimintai orang katanya untuk pemasangan Wi-fi gratis dan lampu penerangan jalan," ungkap salah seorang warga, Ir H Nono didampingi warga RT 15 RW 04 Kelurahan Karangjaya Kecamatan Gandus lainnya sembari memperlihatkan surat penolakan pembangunan tower, Jumat (15/1/2016).

Nono mengaku awalnya pada pertengahan Desember 2015 ia kurang mempedulikan mempedulikan adanya orang yang melakukan penggalian. Namun karena warga banyak yang resah mengetahui galian itu untuk mendirikan tower operator telekomunikasi.

"Pas sore itu mau sekalian ke masjid, saya cek ke belakang, oh benar ini dibangun tower. Ada Pak RT katanya galian PAM. Kok sampai sedalam ini. Lalu saya cari data. Barulah ada per tanggal 18 November 2015 pengajuan Ketua RT 15 RW 04 ke Kelurahan Karangjaya Gandus untuk pembuatan tiang monopol antena komunikasi. Dari lurah 19 November ke kecamatan. 4 Desember ada jawaban dari Kecamatan Gandus agar mendapatkan persetujuan warga sekitar. Kita kan tidak dimintai izin. Dalam hal ini tidak mengindahkan seruan Pak Camat. Dengan adanya ini mereka terus melaksanakan pengecoran, final 14 Januari dini hari pukul 01.00-05.00," beber Ir H Nono.

Lebih lanjut, Ir H Nono menyatakan dengan tegas jika warga resah dengan adanya pemasangan tower ini.

"Pemasangan cor sekitar 3-4 hari selesai. Khawatir tiang roboh menciptakan risiko yang timbul. Yang pasti petir mencari ketinggian. Dampak lain wilayah lingkungan semrawut. Rumah atau ruko yang ada tower harganya akan turun. Karena titik koordinat benar-benar di pemukiman padat penduduk," katanya.

Hal senada juga disampaikan Lukman, yang mengaku warga sudah mengajukan surat keberatan ke Kecamatan, Dishubkominfo Sumsel, Dishub Kota Palembang, dan Walikota.

"Kontribusinya apa? Bila tower roboh kena petir bagaimana? Apalagi ditambah dampak radiasi," ujarnya.

Warga lainnya Hj Anita Noeringhati SH menceritakan pada awal 2015 lalu sampai akhir Desember proyek pembangunan tower ini mulai akan dipasang di depan rumahnya.

"Kontraktor tidak transparansi. Mestinya ada plang seperti pembangunan gedung. Itu pembangunan untuk apa. Saya tanya, dijawab tidak tahu untuk lampu. Begitu tower mau dipasang, saya telepon saya keberatan berdiro di depan rumah saya langsng dapat pengaruhnya," kata Anita yang juga Ketua Fraksi Golkar DPRD Sumsel.

Setelah gagal mendirikan, proyek tower ini ternyata kemudian dialihkan ke belakang rumah Ir H Nono.

"Oleh RT yang lama tidak disoaialisasikan. Warga RT 16, 17 menolak ada tower di pemukiman kita. Pertama untuk keamananan, dan sangat tidak nyaman ada radiasi. Kita tidak menolak pembangunan tapi harus sesuai izin. Yang mendapat dampaknya langsung itu warga. Kami menyayangkan Ketua RT 15 tidak komunikatif. Kita bukan mau diistimewakan, tapi ajak komunikasi. Tadi malam hasil pertemuan warga agar Ketua RT nya dievaluasi. Minta aparat lurah, camat hingga walikota untuk melarang pembangunan tower. Agar distop dan dibongkar. Karena warga khususnya RT 15, umumnya Poligon resah. Di RT 14 juga dipasang tower. Konon kabarnya itu tidak ada persetujuan warga. Yang di depan rumah saya masih ada sisa corannya," tegas isteri Kadishut Pemprov Sumsel Sigit Wibowo.

Warga lainnya seperti H Marhadi Hasan, Rudi, Lukman menyayangkan upaya pihak pembangun tower yang kerap tidak transparan.

"Kalau kejadian ini ngaku pembangunan PAM itu penipuan. Tadinya nak dibangun di RT 16, ditolak. Dipindah ke dekarumah Pak Sigit ditolak," kata pria yang biasa disapa Adi Taylor.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved