Kuliner

Pempek Hitam, Berani Coba?

Pempek Shinta menggunakan pempek yang berasal dari Palembang langsung.

Pempek Hitam, Berani Coba?
KOMPAS.COM
Pempek Hitam Pertama di Indonesia 

SRIPOKU.COM, JAKARTA — Makanan khas Palembang, yakni Pempek, semakin lama tergerus oleh makanan modern.

Namun, hal itu tidak mematahkan semangat kakak beradik, Devi Halim dan Jovita, untuk memodernkan makanan tradisional agar generasi muda tertarik lagi dengan makanan tradisional. Ide pun terlintas untuk membuat Pempek Shinta sebagai pelopor pempek hitam.

"Karena orangtua berasal dari Palembang dan melihat pempek merupakan suatu makanan tradisional yang sangat khas dan juga enak sehingga terlintas di pikiran untuk menjual pempek di Jakarta, dengan tujuan agar pempek bisa lebih diminati oleh masyarakat luas," ungkap Jovita, pemilik Pempek Shinta, Senin (30/11/2015).

Bisnis yang sudah berjalan sejak tahun 2013 ini lebih mengutamakan kesehatan dan kualitas makanan. Penggunaan warna hitam pada pempeknya berasal dari black charcoal khusus yang aman dan baik untuk tubuh. Dengan begitu, penggunaan bahan-bahannya tidak perlu dikhawatirkan.

Pempek Shinta menggunakan pempek yang berasal dari Palembang langsung. Selain itu, ikan yang digunakan adalah ikan belida. Biasanya, pempek menggunakan ikan tenggiri.

Rasa pempek hitam ini semakin nikmat dengan disajikan menggunakan cuka spesial yang pedas.

Jovita menuturkan, selain pempek hitam (Pempek Blackship) yang menjadi favorit, Pempek Shinta juga mempunyai menu lainnya, seperti pempek kapal selam, adaan, lenjer, keriting, dan telur kecil.

"Selain itu, menu spesial kami adalah pempek kulit. Pempek kulit kami sangat berbeda dari tekstur dan juga rasanya. Kami juga akan meluncurkan makanan baru kami pada bulan Desember 2015," katanya.

Menargetkan penjualannya ke anak muda dan pencinta kuliner Indonesia, harga yang ditawarkan pun seperti pempek pada umumnya, yakni Rp 7.500 hingga Rp 40.000.

Jovita berharap, untuk ke depannya, ia bisa membuat makanan pempek menjadi makanan yang lebih modern, bukan sekadar yang biasa kita temukan di kompleks rumah atau pasar. Selain itu, ia berharap, semoga anak muda bisa lebih mencintai makanan tradisional, bukan hanya mencintai makanan dari luar negeri.

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved