"Pakaian Muslimah Bukan Halangan"

Atlet kano yang berasal dari Iran itu membuktikan bahwa dengan berbusana muslimah tidak membuat seorang perempuan ketinggalan.

Penulis: Candra Okta Della | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM/CANDRA OKTA DELLA
Fatimeh Faramjanie atlet asal Iran peraih perak kano di nomor single putri 400 meter, Jumat (6/11/2015). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Pakaian serba tertutup ternyata bukanlah halangan bagi Fatimeh Faramjanie untuk mengukir prestasi olahraga.

Atlet kano yang berasal dari Iran itu membuktikan bahwa dengan berbusana muslimah tidak membuat seorang perempuan ketinggalan dan tidak bisa berprestasi.

Buktinya, ia yang turun di nomor Kano single putri 400 meter, dalam Kejuaraan Kano se Asia di Palembang, mampu melaju dengan cepat, meski ia harus mengakui keunggulan Vietnam yang berhasil meraih emas. Fatimeh hanya mampu menggondol medali perak.

"Alhamdulillah, meski target saya untuk meraih emas gagal. Saya berhasil berada di tempat kedua. Ini luar biasa," ujar Fatimeh usai Upacara Penghormatan Pemenang (UPP) di dana Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Jumat (6/11/2015)

Kontingen dari Iran memang sangat berbeda dalam cabang olahraga kano. Di tengah kebiasaan para atlet kano menggunakan pakaian ketat dan serba terbuka, tim dari Iran, khusunya wanita tetap mempertahankan budaya mereka.

Mereka tampil dengan berbusana tertutup meski tidak berhijab secara sempurna, tapi mereka memperlihatkan jika menjadi muslimah tidak membuat seseorang tersendat disemua bidang.

Ketika ditanya apakah pakaianya membuatnya kesulitan dalam berlomba, Fatime mengaku, pakaianya tidak menjadi beban. Setiap kali memulai race, dengan kerudung yang ditutup topi, mengenakan pakaian panjang, ia merasa bisa menyamai atlet lain yang menggunakan pakaian lebih terbuka.

"Tidak masalah ya. Karena memang sejak kecil saya sudah berkerudung. Jadi terbiasa. Dengan ini saya lebih merasa aman," tutur wanita cantik ini

Menurutnya, perlombaanya kali ini memang cukup menguras banyak energi. Namun, dengan tekat meraih tiket Olimpiade Rip De Jeneiro di Brasil, ia tetap harus tetap konsentrasi.

"Hampir sama dengan teman-teman dari negara lain. Pasti mereka alan menjawab Palembang adalah kota yang panas. Tapi, disitulah bedanya, ada yang senang dengan udara disini karena ditempat mereka sulit mencari matahari," katanya

Berbicara tentang Palembang, Fatime sebelum perlombaan kurang begitu mencari tahu. Namun, usai perlombaanya hal utama yang ia cari adalah pempek atau beberapa makanan tradisional Indonesia.

"Saya tanya LO katanya ada beberapa makanan tradisional Indonesia. Saya ingin coba khususnya tradisional Palembang, Insyallah," tuturnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved