Nurlela Nekat Buat Proposal Fiktif Penerima Pinjaman untuk Nyaleg

Nurlela mengakui dirinya dengan sengaja membuat beberapa proposal fiktif yang mengatasnamakan kelompok SPP.

Nurlela Nekat Buat Proposal Fiktif Penerima Pinjaman untuk Nyaleg
ISTIMEWA
Ilustrasi 

SRIPOKU.COM, BANYUASIN -- Nurlela Binti Nurdin (39), warga Jl Sabar Jaya Rt 02 Kelurahan Mariana Ilir Kecamatan Banyuasin I harus merasakan dinginnya tinggal di balik jeruji tahanan wanita Lembaga Pemasyarakatan Khusus Wanita Jl Merdeka Palembang.

Wanita yang merupakan mantan pengurus UPK PNPM Simpan Pinjam Perempuan (SPP) Kelurahan Mariana Ilir Kecamatan Banyuasin I menjadi tahanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Pangkalan Balai terkait kasus dugaan korupsi dana PNPM mencapai Rp 153.825.000.

“Tersangka diduga melakukan tindak pidana korupsi dana PNPM SPP dengan cara membuat proposal fiktif dan memalsukan tanda tangan peminjam serta mempergunakan uang untuk kepentingan pribadi,” ungkap Kapolres Banyuasin AKBP Julihan Muntaha melalui Kasat Reskrim AKP Agus Sunandar didampingi Kanit Pidkor Iptu Kusnadi SH saat melimpahkan bekas pemeriksaan di Kejari Pangkalan Balai, Rabu (04/11/2015).

Ia menyampaikan, pelimpahan yang dilakukan merupakan pelengkapan berkas yang sebelumnya diminta kelengkapan oleh pihak Kejari Pangkalan Balai.

Tersangka dijerat dengan UU No 20 Tahun 2011 tentang perubahan UU No 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dengan ancaman 12 tahun penjara.

Tersangka sebagai tim verikasi penerima Simpan Pinjam Perempuan melakukan penyimpangan dana dengan membuat proposal SPP PNPM dan memalsukan tanda tangan peminjam.

Sementara itu, Kajari Pangkalan Balai, Asmadi SH melalui Kasi Pidsus Ryan Sumarta, SH membenarkan telah menerima pelimbahan berkas P21 dan tersangka tindak pidana korupsi PNPM dari Polres Banyuasin, dengan tersangka Nurlela Binti Nurdin,warga Jl Sabar Jaya RT 02 Kelurahan Mariana Ilir Kecamatan Banyuasin I.

"Kita tahan yang bersangkutan dua puluh hari kedepan untuk proses pelengkapan berkas dan selanjutnya dilimpahkan ke Pengadilan untuk segera disidangkan,” ungkapnya.

Terpisah, Nurlela mengakui dirinya dengan sengaja membuat beberapa proposal fiktif yang mengatasnamakan kelompok SPP dan memalsukan tanda tangan penerima dana SPP PNPM. Dana yang dicairkan dipergunakan uang untuk kepentingan pribadinya.

Dirinya mengaku jabannya selaku verifikator mempermudah upanya untuk melakukan tidak penyimpangan dana tersebut.

“Saya kan verifikatornya, jadi caranya bikin proposal fiktif dan tanda tangan palsu proposal yang masuk, uangnya saya pakai untuk nyaleng dan usaha jual beli buah sawit,” ungkapnya.

Ia mengaku khilaf saat diberikan tanggung jawab mencairkan uang senilai ratusan juga rupiah tersebut dan menyesal karena akhirnya membuatnya harus mendekam dibalik jeruji tahanan. Dirinya mengaku bertahap melakukan pencairan uang tersebut selama kurun waktu menjabat yakni pada tahun 2013 lalu. (jon/TS)

Editor: Soegeng Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved