Dunia Makin Digital dan Makin Mobile
Dulu, melihat iklan berarti lewat televisi, koran, majalah, dan radio. Kini, internet dan aneka peranti untuk menjelajahinya mulai menggantikan
SRIPOKU.COM - Dulu, melihat iklan berarti lewat televisi, koran, majalah, dan radio. Kini, internet dan aneka peranti untuk menjelajahinya mulai menggantikan wahana-wahana itu. Industri periklanan pun berpacu mengembangkan inovasi untuk beriklan di ponsel. Mengenali pasar dan perubahan perilakunya pun menjadi kunci.
Berita Lainnya: Ini Bila Ibu dan Anak Berteman di Media Sosial
Merujuk hasil penelitian Google pada kuartal IV-2013 hingga 2014, perangkat mobile semakin menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu di media digital. Ponsel juga menjadi 60 persen peranti untuk melakukan pencarian di dunia maya, bersanding dengan pencarian di komputer.
Gaya hidup masyarakat telah berubah. Membaca berita, mencari hiburan, sampai membeli kebutuhan sehari-hari menggunakan ponsel, semakin menggejala karena lebih praktis.
“Hari ini pun hampir semua orang Indonesia punya dan menghabiskan waktu bersama ponselnya," kata CEO Mindshare Indonesia & SEA, Himanshu Shekhar, Kamis (15/10/2015). "Sudah sewajarnya terjadi perubahan signifikan bagi industri periklanan untuk menyesuaikan pembuatan iklan dengan media ponsel.”
Sekhar melanjutkan, Indonesia memiliki pasar yang besar. Mendapatkan cara untuk menggapai masyarakat pengguna ponsel agar tertarik ke sebuah iklan merupakan tantangan bagi para pelaku industri agar mereka lebih kreatif. Terlebih lagi, berdasarkan data Redwing, iklan digital hingga 2017 akan tumbuh 8,8 persen atau senilai Rp 18 triliun.
Proyeksi peningkatan iklan digital tersebut sejalan dengan majunya konektivitas internet 4G.
Ya, mulai 2015 ini beragam provider mulai berlomba menawarkan fasilitas 4G untuk ponsel. Produsen smartphone pun mulai berlomba-lomba mengeluarkan produk yang mendukung akses jaringan cepat ini.
Kehadiran jaringan 4G diyakini membuat informasi lebih mudah didapat masyarakat. Bukan tidak mungkin juga mereka akan lebih menggantungkan diri pada kenyamanan fasilitas yang diberikan ponsel.
Kenali konsumen
Kedekatan informasi karena meningkatnya penggunaan ponsel juga turut mengubah perilaku masyarakat. Penerapan iklan di jejaring dunia maya tak lagi bisa menggunakan pola lama.
Terlebih lagi, sekarang masyarakat dapat memilih dan mencari informasi sesuai kebutuhan. Ketika suatu produk hanya memberikan penawaran, ulasan barang yang diiklankan tinggal dicari di halaman web dan bisa seketika ditinggal bila memang tidak menarik.
“Hari ini iklan bukan tentang apa yang ditawarkan melainkan bagaimana bisa mengarahkan konsumer ke kehidupan yang lebih baik melalui iklan," kata Head of Media Function Unilever Indonesia & SEAA, Adeline Ausy Setiawan, dalam kesempatan yang sama.
Karena itu, kata Adeline, penyajian iklan kontemporer tak lagi tentang "apa yang kami inginkan" tetapi "apa yang ingin konsumen dengar". Dia pun memberikan contoh promosi salah satu produk perusahaannya, dengan mengangkat kampanye real time flood alert.
Selain mengenalkan produk tersebut, tutur Adeline, kampanye ini membantu masyarakat menyikapi banjir yang sudah menjadi isu besar di Tanah Air. Pesan soal produk disisipkan lewat kebutuhan keluarga untuk terlindung dari kuman dengan menjaga kebersihan.
Dari iklan itu, papar Adeline, hal pertama yang diangkat adalah kebutuhan masyarakat. “Kuncinya adalah mengerti siapa konsumen dan perilaku mereka agar dapat beriklan secara efektif," tegas dia.
Menurut Adeline, tak ada satu pun cara yang cocok untuk semua kalangan. "Karena satu orang dan orang lain tak akan sama. Kita harus mengenal konsumen untuk mengenalkan sesuatu secara efisien," papar dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/makan-sambil-mainkan-ponsel_20150930_095452.jpg)