Harga Minyak Dunia
Minyak AS Turun ke Kisaran 45 Dollar AS
Harga minyak AS turun pada Selasa (22/9/2015) waktu setempat (Rabu pagi WIB). Sementara Brent, patokan internasional, naik lagi untuk kedua hari saat
SRIPOKU.COM, NEW YORK - Harga minyak Amerika Serikat (AS) turun pada Selasa (22/9/2015) waktu setempat (Rabu pagi WIB). Sementara Brent, patokan internasional, naik lagi untuk kedua hari saat para pedagang terus menimbang kelebihan pasokan global dan pertumbuhan permintaan yang lemah.
Berita Lainnya: Akhiri Pekan, Harga Minyak Dunia Turun
Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Oktober turun 85 sen atau 1,8 persen menjadi 45,83 dollar AS per barrel di New York Mercantile Exchange.
Sedangkan minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman November naik tipis 16 sen atau 0,3 persen menetap pada 49,08 dollar AS di perdagangan London.
"Kami melihat banyak volatilitas di pasar," kata Andy Lipow dari Lipow Oil Associates.
Menurut dia, tidak ada hal spesifik yang menggerakkan pasar pada Selasa
"Minyak mentah akan tetap berada di bawah tekanan, terutama karena Iran dan IAEA terus membuat langkah menuju inspeksi, yang akan menyebabkan peningkatan ekspor Iran dan tambahan jumlah minyak di pasar datang pada kuartal pertama 2016," sebutnya.
Sinyal terbaru pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat di Asia menambah kelesuan dalam gambaran pertumbuhan permintaan.
Bank Pembangunan Asia (ADB) menyatakan, lemahnya ekonomi Tiongkok tahun ini menyebabkan perlambatan di seluruh Asia.
ADB memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut dan menyatakan ekspansi 2015 di Tiongkok, konsumen energi utama dunia, akan menjadi yang paling lambat sejak 1990, pada tingkat 6,8 persen.
"Pola zigzag kasar beberapa pekan terakhir berlanjut," analis Commerzbank dalam sebuah catatan kepada klien.
Namun, sebutnya, sekalipun para spekulan berfokus pada penurunan produksi AS saat ini, penting untuk tidak melupakan bahwa stok minyak mentah AS saat ini masih 28 persen, atau sedikit di bawah 100 juta barrel, lebih tinggi dari biasanya.
"Dengan kata lain, itu akan memakan waktu bagi mereka untuk kembali ke tingkat normal, meskipun terjadi penurunan produksi di AS," katanya.
Sumber : AFP/ANTARA
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ilustrasi-kilang-minyak_20150914_193523.jpg)