Kisah Bocah yang Terlahir dengan Mulut Tertutup, Tanpa Tangan dan Kaki

"Tidak hanya itu, lahir tanpa tangan dan kaki, cacat bawaan oromandibular limb hypogenesis syndrome. Kondisi ini termasuk langka."

Tayang:
Editor: Darwin Sepriansyah
Daily Mail
Ia lahir dengan kondisi bibir bawahnya melekat pada dasar mulut, rahang atas dan rahang bawah menyatu. Tidak hanya itu, Amethyst juga lahir tanpa tangan dan kaki, cacat bawaan oromandibular limb hypogenesis syndrome 

SRIPOKU.COM --- Lahir dengan cacat bawaan bibir tertutup Seorang balita perempuan berusia 3 tahun akhirnya bisa menjalani operasi awal dengan harapan bisa segera berbicara dan makan untuk pertama kalinya.

Amethyst Santos, balita asal Manila, Filipina ini sejak lahir hanya bisa makan melalui sebuah tabung.

Ia lahir dengan kondisi bibir bawahnya melekat pada dasar mulut, rahang atas dan rahang bawah menyatu.

Tidak hanya itu, Amethyst juga lahir tanpa tangan dan kaki, cacat bawaan oromandibular limb hypogenesis syndrome. Kondisi ini termasuk langka.

Seperti yang dilansir dari Daily Mail, kondisi ini terungkap setelah sang ibu Estrellita berbicara tentang kondisi anaknya dalam sebuah acara Body Bizarre yang ditayangkan televisi.

Saat ini Amethyst masih berada di rumah sakit untuk pemulihan operasi kedua yang dijalaninya.

Yaitu operasi rekontruksi pada rahang. Balita ini sangat bersemangat untuk bisa mencoba makanan pertamanya.

Tayangan itu juga menampilkan operasi pertama yang dijalani Amethyst awal tahun ini di rumah sakit Philipine Children's Medical Centre di kota Quezon.

"Kemarin saya memberitahunya jika mulutnya akan terbuka dan bisa makan makanan normal seperti es krim. Dia bertepuk tangan sebagai isyarat senang. Kami sudah menunggu ini selama tiga tahun, saya tak sabar dan gugup," ujar Estrellita.

Ia menceritakan masa saat hamil Amethyst memang cukup sulit. Selama kehamilan ia mengalami pendarahan selama satu bulan.

Pada usia kandungan lima bulan, dokter mengetahui bahwa janinya tidak sempurna. Saat lahir dokter mengatakan ia lahir dengan mulut tertutup.

Meskipun lahir dengan cacat yang cukup kompleks, Amethyst dibesarkan dikeluarga yang menyayanginya.

Orangtua dan dua kakak perempuannya banyak berperan dalam tumbuh kembangnya.

Meskipun tidak bisa bicara, Amethyst tumbuh sebagai balita yang aktif dan bahagia.

"Saya mencintai semua anak-anak saya, tapi pada Amethyst mungkin sedikit berbeda. Jika saya bisa, saya akan memberikan semua yang diinginkannya," ungkapnya.

Sehari setelah dilahirkan, Amethyst langsung dirujuk ke Dr Taps Gurango, Kepala Operasi plastik di Philippine Children's Medical Centre.

Dokter mengatakan ketika pertama kali melihat kondisi Amethyst, yang menjadi fokus utama adalah gizinya.

Ia kemudian dirujuk ke dokter anak dan makan melalui tabung yang dimasukkan ke dalam hidung.

"Amethyst lahir di lingkungan keluarga yang taat beragama. Mereka menyadari bayi telah merubah hidup mereka dan mereka bahagia. Dia adalah anak yang beruntung," sebutnya.

Pasangan ini kemudian diajarkan untuk memberikan makanan menggunakan tabung untuk anaknya.

Dan saat ia mulai besar, makanan diberikan melalui tabung yang dipasang di lubang kecil pada mulutnya.

Butuh waktu tiga tahun hingga tubuhnya kuat hingga akhirnya dokter bisa melakukan operasi untuk memisahkan tulang rahang dan melepaskan lekatan bibir dari pangkal mulutnya.

Ini termasuk sebuah kasus yang cukup sulit ditangani oleh dokter.

Setelah operasi yang berlangsung selama delapan jam, mulut Amethys baru sebagian yang bisa dibuka.

"Dia tidak bisa bicara, tidak bisa mengeluh. Tapi kami tahu ia sangat kesakitan. Mulutnya sudah dibuka tapi tulang rahangnya begitu rapuh. Tapi ini masih memungkinkan ia untuk makan tanpa bantuan," tutur sang ayah.

Ini adalah waktu yang sulit bagi keluarga mereka, khususnya Amethyst. Beberapa bulan kemudian operasi kedua dilakukan.

Operasi kedua ini dilakukan untuk merekonstruksi tulang rahangnya.

"Pertama kali ia menjalani operasi saya begitu khawatir. Namun saya menyadari ketakutan itu tidak perlu. Saya melihat dia adalah seorang pejuang," sebut Ronaldo.

Saat ini sudah dua bulan sejak Amethyst menjalani operasi dan masih dalam masa penyembuhan.

Ia tidak lagi dirawat di ruangan intensif, namun masih tetap harus berada di rumah sakit.

"Saya berharap dia bisa segera pulih. Bisa berbicara dan makan tanpa bantuan. Sehingga ia bisa mencoba es krim yang sangat diinginkannya," harap sang ayah. (*)

Tags
mulut
bocah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved