Kain Kelengkang yang Lebih Diminati Negara Tetangga

Kain kelengkang dipakai sebagai kerudung atau selendang untuk menutupi kepala.

Penulis: Welly Hadinata | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM/WELLY HADINATA
Ita, pengrajin kain kelengkang saat memperkenalkan cara menyulam motif kain kelengkang pada warga negara asing yang berkunjung ke Palembang beberapa waktu lalu. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Mendengar kain kelengkang, mungkin hanya sebagian warga Palembang saja yang mengetahui kain tersebut. Padahal kain kelengkang merupakan salah satu kain khas asli Palembang selain kain tenun songket.

Kain kelengkang muncul pada masa Kerajaan Palembang Darussalam.

Namun mirisnya saat ini keberadaan kain kelengkang di Palembang nyaris punah.

Masyarakat Palembang sudah tidak begitu banyak lagi yang memakai kain kelengkang yang biasa dipakai kaum hawa untuk pergi ibadah haji dan juga dikenakan mempelai wanita saat melangsungkan akad nikah.

Kain kelengkang dipakai sebagai kerudung atau selendang untuk menutupi kepala.

Lebih mirisnya lagi, keberadaan kain kelengkang di Palembang tidak begitu menjadi perhatian bagi pemerintah melalui dinas terkait. Namun kain kelengkang ternyata lebih diminati kalangan orang-orang luar negeri terutama dari negara tetangga.

"Baru-baru ini kami pernah didatangi orang dari Brunei, Malaysia dan Singapura. Orang-orang luar negeri yang langsung ke rumah saya itu bilang kain kelengkang cukup bagus dan motifnya juga bagus-bagus," ujar Ita, pengrajin kain kelengkang di Kelurahan 11 Ulu Kecamatan SU I Palembang, Minggu (6/9/2015).

Ita sebagai pengarajin kain kelengkang dari turun menurun keluarganya mengatakan, kain kelengkang memang asli kain khas Palembang.

Saat ini hanya warga Tanjung Batu dan Pedamaran Kabupaten OKI yang masih memakai kain kelengkang.

Untuk kain kelengkang yang biasa digunakan ibu-ibu pergi haji, dinamakan kain kelengkang muzawaroh.

Sedangkan untuk kain kelengkang yang sering dipakai mempelai pengantin wanita pada akad nikah, disebut kain kelengkang nistak.

Ukuran kain kelengkang beragam, ada yang berukuran panjang dua meter dengan lebar 70 cm dan ada yang berukuran 1,5 meter segi empat.

Kain kelengkang memiliki nilai lebih dari bentuk motifnya yang beragam jenis.

Motif pada kain kelengkang tidak sembarang bisa dibuat. Motif harus dikerjakan dengan teliti dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang dulunya dapat pelajaran dari generasi keluarganya.

"Saya heran dengan orang pemerintahan ini, sewaktu ada even kami sebagai pengrajin kain kelengkang tidak begitu diperhatikan. Sedangkan orang-orang dari luar sangat antusias untuk mengetahui kain kelengkang," ujarnya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved