Asal Mula Anggar di Indonesia, Soekarno pun Suka Ikut Berlatih

Sebagai olahraga bangsawan, rupanya Presiden Pertama Indonesia, Soekarno pun ikut belajar beladiri ini.

Penulis: Candra Okta Della | Editor: Darwin Sepriansyah
ist
Ilustrasi pertandingan anggar 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Datang sebagai olahraga yang dibawa Belanda, menjadikan Anggar ketika itu menjadi olahraga mahal. Sebagai beladiri dengan senjata menyerupai pedang, Anggar hanya diajarkan kepada tentara Kolonial dan di Sekolah-Sekolah bangsawan.

Rizky Ramadhani, Sekretaris Umum Pengurus Provinsi Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI) Sumsel, menceritakan saat itu terdapat dua macam tujuan permainan anggar, yaitu untuk berkelahi dan olahraga. Sebagai olahraga bangsawan, rupanya Presiden Pertama Indonesia, Soekarno pun ikut belajar beladiri ini.

"Jadi berdasarkan catatan Sejarah, Soekarno ikut berlatih Anggar bersama dengan Drh.Singgih, Soeparman, Maryono, Setu, Warsimin, Paimin Salekan, Atmo Soewirjo, J. Sengkey, Suratman, Mantiri, C.H. Kuron dan Pangangantung," ujarnya, Minggu (12/7/2015)

Dikatakan, setelah penyerahan kedaulatan Negara Republik Indonesia, para guru anggar yang tersebar di tanah air mulai mengembangkan olahraga anggar dengan cara mendirikan perkumpulan-perkumpulan anggar di beberapa daerah. Mulai dari Sumatera Utara, Jakarta, Bandung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara dan di Sulawesi Selatan.

"Perkumpulan anggar di ibukota kita, Jakarta, didirikan oleh Kasimin Atmosoewirjo, Soekarno, dan Drh. Singgih. Di awal tahun 1950, Kasimin Atmosoewirjo mulai mengembangkan olahraga anggar di Jakarta bersama dengan puteranya yang bernama Suratmin," tuturnya

Perjuangan para guru anggar yang telah merintis olahraga anggar di tanah air selanjutnya dikembangkan oleh para penerus. Baik oleh murid, anak, maupun cucu, sehingga pada saat ini olahraga anggar dapat terus berkembang di berbagai provinsi di Indonesia.

Setelah penyerahan kedaulatan Indonesia oleh pihak Belanda, permainan anggar mulai diajarkan di sekolah olahraga maupun perguruan tinggi olahraga. Di lingkungan akademi militer dan polisi juga sempat diajarkan cara bermain anggar, namun pada akhirnya kurang berkembang.

Dalam perkembangan selanjutnya, olahraga anggar mulai dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) kedua yang diselenggarakan pada tahun 1951 di Jakarta. Setelah itu olahraga anggar selalu dipertandingkan dalam setiap PON hingga sekarang. (candra okta della)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved