Psikologi
Jalan-jalan Sendirian Justru Bisa Bikin Bahagia
Sebuah hasil penelitian yang dilansir Washington Post menyatakan bahwa jalan-jalan sendiri bisa membuahkan perasaan bahagia di akhir hari.
SRIPOKU.COM -– Siapa bilang pergi sendiri membosankan dan terlihat menyedihkan? Ternyata, sebuah studi menyatakan bahwa pergi sendirian bisa membuat seseorang lebih berbahagia. Apa pasal?
Tidak banyak orang, terutama wanita, merasa percaya diri untuk makan dan minum sendirian di restoran atau kafe. Alasannya, sederhana saja, mereka tidak ingin terlihat menyedihkan karena keluar rumah seorang diri.
Namun, sebuah hasil penelitian yang dilansir Washington Post menyatakan bahwa jalan-jalan sendiri bisa membuahkan perasaan bahagia di akhir hari.
Penelitian ini mengawali proses eksperimen dengan mengamati sejumlah orang yang mengunjungi galeri lukisan dan kafe seorang diri. Awalnya, mereka terlihat kurang semangat dan lelah. Namun, kira-kira setengah jam kemudian mereka tampak lebih sering tersenyum, tatapan mata lebih berkilau, sehingga wajah mereka jadi lebih sedap dipandang.
Jika benar demikian, mengapa masih banyak orang yang ragu untuk berpergian sendirian?
“Kita selalu khawatir akan pandangan orang saat kita sendirian di tengah-tengah keramaian. Takut dianggap tidak punya teman, takut dibilang membosankan, dan sebagainya,” ujar Rebeca Ratner, rekan penulis penelitian.
Alhasil, menurut Ratner, banyak orang lebih memilih menghabiskan akhir pekan dan waktu luang di dalam rumah. Sebab, sebagian dari kita merasa malu untuk jalan-jalan sendirian.
Anggapan dan guyonan yang sering dilemparkan pada mereka yang masih melajang, kata Ratner, membuat mereka yang masih berstatus single merasa tidak percaya diri.
Oleh karena itu, menjadi lajang di era modern seperti sekarang bukan kondisi yang mudah. Pasalnya, lingkungan seperti selalu menghakimi status single Anda tersebut.
Takut keluar rumah sendiri, menurut Ratner, memiliki istilah psikologis “Spotlight Effect”. Kondisi ini menjabarkan, rasa takut dan khawatir pada penilaian publik mengenai terlihat berjalan sendirian di ranah publik.
Jadi, bagaimana mengubah penilaian keliru publik pada orang-orang yang lebih menikmati kesendirian? “Harus ada perubahan gaya berpikir mayoritas orang pada kondisi yang merugikan mereka yang masih melajang. Hal-hal itu membuat orang jadi kurang percaya diri dan malu untuk jalan sendirian. Sebab, beraktivitas seorang diri bisa jadi sangat menyenangkan,” urainya.
Penelitian terkait di atas melibatkan 2000 partisipan yang sukarelawan. “Setiap orang berhak merasa bahagia, baik berpasangan atau masih lajang,” tegas Ratner.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/jalan-jalan-sendirian_20150524_103344.jpg)