Peluang

Mencetak Bata Ringan, Menjanjikan Laba (2)

Kementerian Perdagangan mencatat, total ekspor benda-benda terbuat dari batu, gips, dan semen terus meningkat.

Tayang:
Editor: Bedjo
www.kaskus.co.id
Bata Ringan. 

SRIPOKU.COM - Merintis usaha
Kementerian Perdagangan mencatat, total ekspor benda-benda terbuat dari batu, gips, dan semen terus meningkat. Tahun 2009, ekspor kategori ini mencapai US$ 118,3 juta. Empat tahun berikutnya, sudah di angka US$ 166,6 juta atau tumbuh 40,83% dengan tingkat pertumbuhan per tahun rata-rata 10,21%. Data terbaru, bulan Januari–Oktober 2014, total ekspor mencapai US$ 138 juta.

Memang, dibanding dengan periode yang sama tahun 2013, jumlah ini turun sekitar 1,5%, karena di periode itu ekspor mencapai US$ 140,1 juta. Meski begitu, para pengusaha batu bata ringan sepakat, penurunan itu justru terjadi lantaran permintaan di dalam negeri yang tumbuh luar biasa. Artinya, potensi bisnis bahan bangunan batu bata ringan punya prospek sangat cerah. Demikian pula dengan prospek bisnis batu bata merah (lihat boks).

Tertarik menjajal bisnis ini? Jika ya, berikut "resep dapur" sesuai dengan penuturan para pemilik pabrik yang sudah berkecimpung di bisnis batu bata ringan. Silahkan mencermati.

• Modal
Dari zaman baheula –lantas juga kerap menjadi lagu lama– seseorang selalu terbentur dengan modal pada saat ingin memulai usaha. Kata para suhu di bisnis ini, terima saja kenyataan bahwa modal uang memang dibutuhkan. Cuma, bukan pebisnis namanya jika belum jalan, kok, sudah menyerah.

Banyak jalan menuju Tegal! Banyak cara mendapat modal! Anda bisa menabung. Lalu, bisa juga minta warisan. Atau, bisa saja Anda pinjam kawan. Kalau terasa mustahil, pinjam saja dari lembaga keuangan, misalnya bank. Hanya saja, para suhu di sini memberi saran, untuk memulai bisnis, lebih baik modal berasal dari duit tabungan. Tidak banyak, kok. Cukup Rp 40 juta saja.

Sudah tentu, dengan modal sebesar itu, jangan bermimpi memulai dengan skala yang besar. Uang segitu cuma cukup untuk mengawali bisnis skala usaha kecil–menengah (UKM) yang dikerjakan di rumah. Produksinya pun belum besar. Tapi, modal itu cukup bagi Anda untuk memiliki mesin cetak batu bata ringan sendiri.

Matheus, yang dulu hanya tamatan SMU, memberanikan diri memulai usaha dengan mesin cetak bata ringan hasil desain sendiri. Cuma, untuk mencapai tahap itu, juga butuh proses tak mudah. Beruntunglah, dia punya kolega dari Jerman sebagai tempat belajar sampai paham, itu berlangsung usai bencana tsunami di Aceh. Maksud hati membantu, ternyata bagi Matheus, peristiwa itu juga peluang usaha.

Jadi, modal utama Matheus memang jaringan, pengetahuan membuat bata ringan, serta membaca peluang. Selanjutnya, barulah modal uang. "Sekarang ini, tak sampai Rp 40 juta sudah bisa mulai usaha batu bata ringan," ujar Matheus yang punya pabrik bata ringan di Medan.

Pada dasarnya, batu bata ringan merupakan pengembangan dari teknik menciptakan beton (concrete). Produk ini hasil dari pencampuran pasir silika, air, kapur, semen, dan anhidrit (kalsium sulfat/CaSO4). Kelima bahan itu lantas diproses dengan gas pembentukan dari pasta atau bubuk aluminium.

Pasta atau bubuk alumunium akan bereaksi dengan CaSO4 dan air hingga membentuk hidrogen. Busa gas hidrogen akan membentuk gelembung berdiameter 3 milimeter di dalam campuran material. Di akhir proses, hidrogen akan terlepas dan tergantikan udara. Setelah itu, bahan mentah batu bata dicetak lalu dipanaskan sekitar 190º Celsius selama 12 jam. Karena itu, batu bata ringan kebanyakan berpori, ringan,
namun kuat.

Teknik beton berpori dipatenkan pertama kali oleh ilmuwan Cekoslovakia, E. Hoffman. Namun teknik pembuatannya baru terdokumentasi setelah dikembangkan oleh Johan Axel Eriksson, ilmuwan Swedia. Pria Jerman, Josef Hebel, menjadi penerus pengembangan bata ringan ini. Di awal-awal produk ini populer, ada dua merek yang terkenal, yaitu Hebel dan Y-Tong (merek Eriksson yang belakangan juga dibeli oleh perusahaan Jerman).

Di Indonesia, dikenal dua jenis, yaitu autoclaved aerated concrete (AAC) dan cellular lightweight concrete (CLC). Produk bata ringan kondang di sini sejak berdirinya PT Hebel Indonesia, sekitar tahun 1995. Tapi sebenarnya, dua jenis produk bata itu sama. Yang membedakan hanyalah cara penge-ringan. AAC dikeringkan lewat pemanasan, sementara CLC dikeringkan secara alami di tempat terbuka.

Beda dengan AAC, untuk membuat bata CLC bahannya cukup pasir, semen, dan bahan kimia yang disebut foam agent alias senyawa kimia alkyl ether sulphate (AES) yang dicampur dalam mesin olah (molen). Setelah merata dan dicetak, lantas dikeringkan selama sekitar 10 jam di tempat terbuka.

Meski biaya investasinya lebih murah, Budi Harsana, Manajer Operasional PT Bumi Sarana Beton (BSB), anak usaha Kalla Group, bilang, bahan kimia foam agent belum terstandardisasi. Jadi, masing-masing perusahaan penjual foam agent punya formulasi berbeda-beda. Risikonya, tentu saja pada produk bata ringan. Kalau foam agent bagus formulanya, akan bagus juga kualitas bata ringan. Tapi jika jelek, produk akhir juga bisa-bisa mudah pecah. "Kami belum percaya. Karena itu, kami putuskan memproduksi batu bata ringan AAC yang sudah ada standardisasinya dan proses pembuatannya terukur," ujar Budi.

Bersambung...

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved