Breaking News

Buku Resep Masakan Asli Indonesia Pertama Disusun RA Kartini

Perempuan keturunan ningrat dari kerajaan di Tanah Jawa, yang terkenal dengan pernyataannya

Editor: Sudarwan

SRIPOKU.COM - Bagi para pencinta kuliner, menikmati sajian berbagai menu khas Indoneisa tentu akan sangat menggoda lidah. Namun tahukah Anda, siapa sebenarnya orang Indonesia pertama yang menyusun dan membukukan resep masakan asli Indonesia?

Menurut budayawan JJ Rizal dalam sebuah diskusi kuliner, buku resep masakan khas atau asli Indonesai telah mengalami perjalanan yang sangat panjang. Orang Indonesia yang pertama kali menyusun buku resep masakan asli Indonesia adalah seorang perempuan yang justru berasal dari balik tembok istana kerajaan.

Perempuan keturunan ningrat dari kerajaan di Tanah Jawa, yang terkenal dengan pernyataannya, “Habis gelap terbitlah terang” dan merupakan cikal bakal tokoh feminisme pada zamannya, serta salah satu pahlawan nasional Indonesia, R.A. Kartini adalah orang pertama yang membukukan resep masakan asli Indonesia.

“Ya, tidak banyak yang tahu bahwa Raden AjengKartini adalah seorang priyayi yang rajin menuliskan resep-resep masakan khas Indonesia, khususnya di Tanah Jawayang kerap disajikan di dalam istanaatau tempat tinggalnya sebagai keluarag kerajaan.”

Namun sebenarnya, lanjut Rizal, resep-resep yang dituliskan dan disusun Kartini itu didapatkan dari para babu (pembantu) yang berasal dari rakyat jelata. Pasalnya, lanjut Rizal, “Indonesia tidak memiliki dokumentasi mengenai makanan khas kaum raja-raja di masa lalu. Sebab, jika dicari akarnya, justru makanan rakyat jelata lah yang banyak disajikan di dalam istana raja-raja.”.

Selanjutnya, kata Rizal, buku resep yang ditulis dan disusun menjadi buku oleh Kartini ini diberi judul dalam Bahasa Belanda. “Pada zamannya bahkan dijadikan salah satu buku ajar di sekolah keputrian yang dikelola Kartini bersama adiknya, Kardinah.”

Selanjutnya, dokumentasi resep-resep kuliner Indonesia dibuat oleh seorang Belanda pada masa penjajahan. “Buku resep kuno yang ada di Indonesia selanjutnya dibuat oleh JMJ Catenius van der Meijden. Dia menyusun buku resep kuliner khas Indonesia dari hasil mewawacarai para babu keluarga terpandang dan para raja di zaman itu. Judul buku resepnya Groot Nieuw Volledig: Cost-Indisch KookBoek ,” terang Rizal.

Dalam buku ini, tidak tercantum berapa takaran setiap bahan yang dipakai dalam membuat sebuah resep masakan. Menurut Rizal, pada zaman dahulu setiap babu yang bekerja di rumah keluarga terpandang atau kerajaan lebih banyak mengunakan rasa atau perasaan dalam menakar bahan-bahan saat mengolah masakan.

Cara penulisan resep demikian juga berlanjut pada buku resep kuno Indonesia lainnya yang berjudul Mustikarasa , dengan sampul depan buku memperlihatkan ilustrasi gambar seorang perempuan menggunakan kebaya dan kain, lengkap dengan sanggul Jawa sedang mengiris bahan makanan di dapur.

Buku resep kuno masakan asli Indonesia
Buku resep kuno masakan asli Indonesia "Mustikarasa". (FOTO: HOTELIER-INDONESIA.COM)

“Sayangnya, tak ada yang tahu buku resep ini disusun oleh siapa. Tapi uniknya, di dalam buku resep Mustikarasa ini sudah mulai muncul diversifikasi makanan. Artinya dari beras atau nasi bisa dibuat menjadi berbagai resep masakan khas Indonesia. Begitu pula dengan pengganti nasi, seperti ubi.”

Dan lagi-lagi, kata Rizal, dalam buku resep Mustikarasa juga tak dijelaskan jumlah takaran bahan-bahan yang digunakan dalam membuat sebuah resep masakan. Bahkan cara ini juga diadaptasi oleh penulis buku resep di masa sekarang.

“Buku resep modern yang belum lama ini diterbitkan, disusun oleh Suryatini N. Ganie, berjudul Mahakarya Kuliner: 5000 Resep Makanan & Minuman di Indonesia dengan Rasio (Perbandingan Dasar) Bumbu dan Bahan . Buku resep ini disusun oleh Ibu Suryatini selama 20 tahun,” papar Rizal.

Buku resep
Buku resep "Mahakarya Kuliner: 5000 Resep Makanan & Minuman di Indonesia dengan Rasio (Perbadingan Dasar) Bumbu dan Bahan". (FOTO: DOk. GRAZERA (GRAMEDIA).COM)

Cara penyajian dalam semua buku-buku resep yang mengiringi perjalanan kuliner asli Indonesia ini, kata Rizal, sangat tipikal yakni tak ada takaran untuk bahan-bahannya. “Sebab pada dasarnya masak itu menggunakan tangan dan harus diicip-icip. Sehingga meracik kuliner nusantara identik dengan rasa, dengan kata lain, memasaknya pun pakai perasaan,” pungkas Rizal. (Intan Y. Septiani/Tabloidnova.com)

Sumber: Nova
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved