Pengakuan Tora Sudiro dan Mieke Amalia (1)
Nama pasangan ini dikenal lewat program variety show di layar kaca. Lama tak terdengar kabarnya, rupanya mereka tengah melebarkan sayap menikmati...
Nama pasangan ini dikenal lewat program variety show di layar kaca. Lama tak terdengar kabarnya, rupanya mereka tengah melebarkan sayap menikmati bekerja dari balik layar. Malah, sebagai partner kerja di proyek film baru keduanya, Tora mengaku jadi lebih penurut pada istrinya, Mieke.
Dalam membidani film berjudul The Wedding and Bebek Betutu , Tora Sudiro (41) dan Mieke Amalia (37) tampak begitu kompak. Tingkah keduanya masih tetap sama seperti yang kerap terlihat di program komedi Extravaganza , sama–sama jenaka mengundang gelak tawa orang-orang.
Jika boleh memutar waktu, masih hangat dalam ingatan penonton akan program yang naik daun pada 2004 silam tersebut. Saat itu, nama para pemainnya yang terbilang baru mulai merangkak dikenal publik. Selain Tora dan Mieke, ada Aming, Ronal Surapradja, Indra Birowo, Tike Priatnakusumah, Roni Dozer, Virnie Ismail, Sogi Indra Dhuaja, Ence Bagus, TJ, Omesh, dan Edric Tjandra.
Namun, seiring berjalannya waktu para pemain pun mulai disibukkan rutinitas masing-masing. Meski begitu persahabatan mereka tetap terjalin 10 tahun ini. Itu sebabnya, jika sedang berkumpul kerapkali ada obrolan soal rasa rindu dengan kegiatan rame-rame seperti saat syuting program komedi tersebut.
Atas dasar kesan emosi tersebut, para pemain Extravaganza pun antusias menyambut proyek film yang diproduseri Tora-Mieke. Pasangan yang menikah akhir 2009 lalu ini bukan hanya terlibat sebagai pemain, tapi juga bergerak di balik layar. Rupanya mereka tengah mengembangkan bisnis rumah produksi yang diberi nama Awan Sinema Kreasi Production atau dikenal dengan Asik Production.
Diakui Mieke, duduk sebagaiexecutive producer memang menjadi pengalaman pertamanya. Ia pun merasa kesulitan. Pasalnya, ibu tiga anak itu harus mengatur kru dan para pemain lain sembari menyatukan ide-ide yang ada. “Saya produser baru, sih, merasa harus menyatukan visi dengan dan dari orang yang beda-beda isi kepalanya. Banyak hal baru yang saya pelajari. Biasanya, kan, saya cuma dibayar terus akting sebagai pemain. Jadi ini tantangan baru buat saya dan Tora,” tukas Mieke.
Ia mencontohkan seperti saat ide film mulai tercetus dan harus mencocokan jadwal para pemain yang sangat padat. Mereka pun meracik kembali naskah film lantaran, “Ada pemain yang tiba-tiba jadi botak (TJ) dan juga ada yang lagi hamil (Virnie dan Tieke), makanya ubah skrip juga. Tapi di sini kami saling bahu-membahu karena tahu buat film itu ternyata enggak mudah. Kami masih banyak belajar. Ya, istilahnya belajar sambil praktik,” sambung Tora.
Kedekatan Emosi
Ditambahkan Tora, film ini memang sengaja dibuat untuk menyatukan kembali rekan-rekannya di Extravaganza lantaran mereka memiliki kedekatan emosional. “Awalnya kita ada pertemuan pas Ramadan lalu, sambil reuni kecil-kecilan, kepikiran, yuk, kita bikin sesuatu. Kebetulan saya sama Mieke yang dapat kesempatan,” tutur Tora.
Dan di sisi lain, Mieke dan Tora mengaku bersyukur lantaran tim dan kru film yang membantu mereka membuat pengerjaan film berlangsung profesional. “Saya kebantu sama orang-orang di belakang saya, semua kru sangat mendukung. Tidak terlalu sulit karena mereka sebelumnya pernah bekerja sama dengan kita, jadi tahu kualitasnya seperti apa,” cerita Mieke yang sejak awal memang menginginkan genre komedi untuk proyek filmnya ini.
Selain sudah sangat melekat dengan imej doyan membanyol dari para pemain Extravaganza , “Soal cerita juga dihubungkan dengan pertemanan kami semua. Jadi itung-itung reuni para pemain,” imbuhnya lagi.
Film tersebut berkisah tentang sekelompok pegawai hotel yang harus melakukan misi menyelamatkan sebuah pesta pernikahan. Meski judulnya bernuansa Bali karena tersemat kata Bebek Betutu, rupanya proses syuting sama sekali tidak dilakukan di pulau dewata, “Karena kalau syutingnya di sana yang ada malah enggak kerja tapi penginnya liburan. Ha ha. Lagipula kalau harus bolak-balik syuting di Bali dan mencocokkan jadwal para pemain itu sangat susah. Yang pasti bebek betutunya itu ada kaitannya di dalam cerita,” ungkap Tora yang akhirnya memilih kota kembang sebagai tempat syuting dengan latar hotel bergaya renaissance dan lokasi-lokasi eksotis lainnya. Rencananya, film ini akan mulai di produksi pada 23 Februari hingga 18 Maret 2015.
Bersambung...
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/tora-sudiro-dan-mieke-amalia.jpg)