Mom and Kids
Siapkan Diri Hadapi "Baby Blues"
Psikolog Universitas Sriwijaya (Unsri) Sri Agustini mengatakan sebagian besar ibu yang baru melahirkan biasanya akan terkena syndrom ini.
Penulis: Damayanti Pratiwi | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM -- Pasca melahirkan tentunya membawa perubahan dalam diri seorang ibu muda. Tentunya, begitu banyak perubahan yang terjadi pada diri perempuan, baik secara fisik maupun psikologi.
Secara fisik, perempuan yang baru melahirkan tentunya akan terlihat gemuk dan mengalami kenaikan berat badan. Ini akan membuat mereka kehilangan kepercayaan diri karena tubuh yang jauh lebih lebar dibanding sebelum melahirkan.
Seperti yang dialami Sari yang baru saja melahirkan anak keduanya. Ia mengaku berat badannya meningkat lebih dari 10 kilogram pasca melahirkan. "Sepertinya saya harus super ketat, tubuh saya melebar dan bisa dipastikan sebagian besar pakaian saya pasti sempit," tuturnya.
Tidak hanya secara fisik, tentunya akan terjadi perubahan pada psikologi seorang ibu, khususnya yang baru pertama kali melahirkan. Banyak yang merasa stress yang lebih dikenal dengan syndrom "Baby Blues". Syndrom ini bahkan membuat sang ibu enggan melihat dan mengasuh anaknya karena merasa tidak sanggup karena alasan yang hanya dirinya sendiri mengetahuinya.
Psikolog Universitas Sriwijaya (Unsri) Sri Agustini mengatakan sebagian besar ibu yang baru melahirkan biasanya akan terkena syndrom ini. Biasanya memang tidak lama, sekitar dua minggu setelah melahirkan. "Tetapi, yang cukup ekstrem ibu bahkan tidak mau melihat anaknya yang baru melahirkan, karena muncul kecemasan tidak dapat mengurus dan mengasuh anak dengan baik," ujarnya.
Beberapa faktor penyebab terjadinya syndrom ini, diantaranya faktor hormonal karena setelah melahirkan hormon kortisol ibu akan meningkat dan mendekati kadar seseorang yang sedang mengalami depresi. Maka tidak jarang, ibu yang terkena syndrom Baby Blues tak jarang berteriak seperti sedang mengalami tekanan dalam dirinya.
Kelelahan pasca melahirkan pun dapat menjadi faktor ibu terkena syndrom ini."Setelah melahirkan tentunya ibu akan mengalami kelelahan tubuh, yang juga akan mempengaruhi psikologisnya. Suami dan orangtua dari perempuan yang baru melahirkan ini memiliki peran untuk terus mendampinginya," jelasnya.
Kehadiran orang yang dipercaya tentunya akan memberikan kekuatan bagi sang ibu untuk melewati masa Baby Blues ini. Suami memiliki peran yang sangat besar untuk membesarkan dan menguatkan hati istrinya pasca melahirkan. Kepercayaan yang diberikan pada sang istri jika ia mampu memberikan kasih sayang dan mengasuh anak mereka dengan baik diyakini sangar mujarab untuk membuat istri segera lepas dari syndrom "Baby Blues" ini.
"Suami memiliki peran penting untuk mendampingi istri, buatlah ia yakin jika ia mampu menjadi ibu yang baik. Tidak ada masalah apapun dengan perubahan yang terjadi pada diri sang istri, meskipun tubuhnya melebar, yakinkan ia tidak akan menjadi orang yang menakutkan. Kekuatan ini yang dibutuhkan istri yang terkena syndrom ini," papar Sri.