Budaya Asing Wajib Difilter

Jika dibiarkan kebudayaan-kebudayaan asing tersebut bisa membunuh budaya asli masyarakat Indonesia, termasuk Palembang.

Penulis: Refli Permana | Editor: Soegeng Haryadi

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Ragam jenis kebudayaan asing semakin banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia, tak ketinggalan Palembang. Jika sebelumnya masih sebatas Hari Kasih Sayang (Valentine Day), kini perayaan macam Halloween sudah mulai dilakukan beberapa masyarakat.

Dikatakan Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), Suparman Roman, segala jenis budaya asing itu sudah seharusnya dilarang masuk ke Indonesia dan juga Palembang. Jika dibiarkan, Suparman menilai, kebudayaan-kebudayaan asing tersebut bisa membunuh budaya asli masyarakat Indonesia, termasuk Palembang.

"Kebudayaan asing tidak cocok dengan kultur masyarakat kita. Orang kita ikut-ikutan merayakannya mulanya hanya untuk seru-seruan saja. Namun, jika dibiarkan, akan ada perayaan khusus semacam Valentinde Day dalam kalender kita," kata Suparman, Minggu (21/12/2014).

Jika kebudayaan asing menjadi salah satu agenda dalam kalender nasional, Suparman menilai itu akan menjadi kemunduran untuk bangsa kita. Masyarakat asing, terutama masyarakat barat, akan semakin mengecap masyarakat Indonesia sebagai masyarakat pengikut.

Tak hanya kebudayaan, Suparman juga berharap pemerintah tidak membiarkan kesenian-kesenian asing masuk bebas di Palembang. Apalagi, K-Pop kini benar-benar sudah mewabah di Palembang dan membuat masyarakat Palembang kian meninggalkan kesenian lokal. Di saat acara-acara bergenre K-Pop kian sering ditampilkan, kesenian lokal justru kian tenggelam di tengah ramainya pengagum K-Pop berpesta pora.

Sebab itu, pria yang dalam waktu dekat akan lengser dari ketua DKP ini berharap, DKP yang menjadi jembatan seniman dengan pemerintah harus bisa menuntut pemerintah membuat perda tentang kesenian. Tujuanya, melestarikan budaya dan kesenian asli Palembang supaya tidak hilang karena pengaruh asing yang kian merajarela.

"Seni dan budaya termasuk ciri khas dan harga diri suatu negara. Jika ciri khas dan harga diri itu sudah hilang, tentu ini menjadi kemunduran," tegas Suparman.

Suparman sadar, sulit menangkal masuknya budaya asing ke Palembang. Pasalnya, sebagian masyarakat Palembang sudah keburu menilai budaya asing lebih modern ketimbang kesenian lokal. Terlebih,sebagian pihak sanggup merogoh kocek dalam jumlah besar untuk menggelar suatu acara, sangat beda dengan pelaku seni asli yang butuh bantuan pemerintah jika ingin menggelar suatu acara.

"Saya rasa, ini tugas kita semua jika ingin melestarikan budaya lokal. Namun, pemerintahlah yang harus bergerak karena mereka memiliki wewenang untuk melarang," pungkas Suparman.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved