Bunga Bangkai di Perumnas Talangkelapa Kembali Berkembang
Saat ini ada belasan batang bunga bangkai tumbuh di sekeliling bunga yang Raflesia yang sedang memunculkan bunganya.
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Warga Jalan Kelapa Sawit 6 Blok 6 RT 18 RW 14 Perumnas Talangkelapa dikejutkan munculnya kembali bunga Raflesia yang tingginya hanya 60 cm dari permukaan tanah di pekarangan kosong rumah Mubin akhir November 2014 ini.
Tidak sedikit yang penasaran sekadar hanya ingin melihat dan memastikan apakah benar bunga tersebut menebarkan bau. Ternyata bunga itu tidaklah bau. Ada juga yang sempat memotret dan memvideokan bunga terkenal tumbuh di Bengkulu ini.
"Idak bau. Sampai sekarang idak bau," kata Donny Pradestama, putranya Mubin pemilik pekarangan yang ditumbuhi Bunga Raflesia, Kamis (4/12/2014).
Saat ini ada belasan batang bunga bangkai tumbuh di sekeliling bunga yang Raflesia yang sedang memunculkan bunganya.
Bahkan ada satu batang memiliki banyak cabang dan daun lebat menjulang hingga 140 cm.
"Tahun kemarin padahal sudah tidak ada lagi. Sudah ditebang galo. Tiba-tiba minggu ini tumbuh lagi," kata Doni.
Tidak sedikit warga menyayangkan ulah orang yang merusak bunga bangkai raflesia hingga mati.
"Padahal kemaren mekar bagus nian. Lebih lebar dari tahun kemarin. Budak sini jahil galo. Diganggui," kata Iin.
Sementara Mubin sendiri mengatakan bunga Raflesia ini tidaklah busuk. Ia menganalisai yang membuat bau busuk itu binatang yang mati setelah hinggap di kembang ini.
"Banyu kembang itu yang beracun. Binatang yang minum di situ mati. Semacam lalat, nyamuk minum di kembang itu. Mati, jadi bangkai di situ. Itulah penyebab dio busuk. Ini sudah dua kali. Tahun lalu sekitar sekilan dari situ tumbuh lebih besar. Kalau yang sekarang ini lebih kecil," kata Mubin.
Menurut karyawan Indomie ini, bunga ini biasanya muncul selama sebulan. Ia baru menyadari setelah dua minggu tanaman ini kembali tumbuh dan berkembang.
"Seminggu mekar layu. Ketahuannya minggu keduo. Itulah langsung kubelike kawat, dipagari biar dan diganggu. Ini nak kito jingokke nian, sampai dio mati lagi. Tanggal 1 Desember itu mekar nian. Begitu kito pindahkan. Lima tahun kemudian dio berkembang. Dipagari biar tidak diganggu anak-anak," ujarnya.