Psikologi

Jangan Pernah Berpikir untuk Balas Dendam

Terkadang, banyak orang yang selalu memberikan perhatian dan bersikap manis di depan kita.

Editor: Soegeng Haryadi

SRIPOKU.COM -- Semua orang tentunya selalu mengharapkan mendapatkan teman yang dapat dipercaya. Terkadang, berbagai upaya dilakukan seseorang untuk dapat menemukan seorang sahabat baik. Tidak salah, sebagai makhluk sosial manusia tentunya membutuhkan teman dekat yang dapat dipercaya untuk mendengarkan cerita serta keluh kesah.

Tidak hanya itu, teman pun diharapkan dapat menjadi pendamping ketika sedang merasakan kebahagiaan. Ketika berbahagia, selain keluarga tentunya seseorang akan menceritakan kebahagiaannya itu pada teman terdekatnya.

Namun, bukan berarti mudah mendapatkan teman yang tidak benar-benar tulus bersahabat dengan kita. Terkadang, banyak orang yang selalu memberikan perhatian dan bersikap manis di depan kita. Tetapi, mereka justru menjelekkan kita ketika berbicara dengan rekan lainnya. Bahkan, tidak jarang justru menusuk dari belakang yang membuat citra kita justru buruk di depan orang lain.

Sebagai orang yang sudah kita anggap sebagai teman yang dipercaya, ketika berada pada posisi tersebut, tentu kita akan merasakan sakit hati. Apalagi, jika semua hal pada diri kita sudah kita ceritakan pada mereka, bukan tidak mungkin semua aib dan kejelekan kita pun akan ia beberkan pada orang lain.

Psikolog Viera Adella SPsi MPsi mengatakan wajar jika seseorang merasakan perlu memilih seorang teman untuk dijadikan orang kepercayaan. Manusia merupakan makhluk sosial yang harus bersosialisasi dengan orang lain dan tentunya membutuhkan seseorang yang dipercaya untuk dapat saling berbagi.

Namun, ketika sudah dikhianati tentu sebagai manusiapun kita akan memberontak. Tidak salah jika pada akhirnya kita memutuskan hubungan dengan orang tersebut, ini merupakan bentuk pernyataan harga diri kita di tengah masyarakat. Tetapi, bukan berarti kita boleh dengan begitu saja merasa dendam dan bahkan berniat membalasnya suatu saat nanti.

"Membalas dendam misalnya dengan menyampaikan keburukan teman itu dengan teman lainnya, justru tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada justru semakin membuat posisi kita tidak baik," ujarnya.

Teman itu akan dengan mudahnya memutarbalikkan fakta bahwasanya kitalah orang yang justru menikamnya dari belakang. Untuk itu, sangat dilarang untuk membalas dendam dengan membongkar semua kebusukannya di depan orang lain.

Anggap saja, apa yang ia lakukan merupakan bentuk perhatian dan kepeduliannya pada kita. Hal ini terkait dengan bagaimana ia ternyata mengetahui begitu banyak mengenai diri kita. Ia sangat memperhatikan semua hal kecil pada diri kita yang ternyata tidak ia miliki. Oleh sebab itu, banyak orang yang mencoba mencari celah keburukan kita dengan berkata hal buruk mengenai kita di depan orang lain. Padahal sebenarnya banyak hal baik dari diri kita yang ia simpan dan diperhatikannya.

Usahakan tidak terpancing pada perkataan buruk yang disampaikannya pada orang lain. Viera justru menyarankan untuk terus mengembangkan diri menjadi lebih baik dan orang lain justru dapat menilai diri kita dengan apa yang kita tunjukkan.

"Meskipun memang sangat besar kemungkinan orang lain tersebut mempercayai ucapan buruk mengenai kita, tetapi mereka akan berubah pikiran ketika melihat kondisi sebenarnya. Untuk itu, teruslah mengembangkan diri sehingga menjadi lebih baik dan itu membuktikan ucapan buruk teman pengkhianat ini tidak benar," tegasnya. (cr4)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved