Pedagang Petai Asal Empatlawang Ekspansi ke Lubuklinggau

Bisa dibilang, kualitas petai dari wilayah Empat Lawang memang sangat bagus untuk menjadi tambahan lalap.

Editor: Soegeng Haryadi

SRIPOKU.COM, LUBUKLINGGAU -- Sejumlah pedagang petai yang berasal dari Kabupaten Empatlawang ramai-ramai ekspansi ke Kota Lubuklinggau, mereka mengaku bisa meraup keuntungan sampai Rp 300 ribu perhari dari menjual salah satu lalapan sayur tersebut. Tak ayal, semenjak dua hari terakhir para pedagang menghiasi di berbagai Jalan protokol Kota.

Aminah salah satunya, warga yang rela meninggalkan rumah guna mengais rezeki di daerah lain, mengungkapkan, seharinya bisa 300 ikat terjual habis oleh pembeli. Hal itu membuat dirinya untung berlipat-lipat dari penjualan sebelumnya. Karena biasanya dalam sehari hanya 10 ikat petai yang bisa dijualnya.

Untuk harga satu ikat petai pun beragam, mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu. Tidak jarang, seorang pembeli bisa memborong hingga 10 ikat berbagai macam ukuran. Bisa dibilang, kualitas petai dari wilayah Empatlawang memang sangat bagus untuk menjadi tambahan lalap.

"Sudah dua hari ini banyak warga yang membeli, memang saat ini di Lubuklinggau tanaman petai belum tumbuh sehingga kami mencari peluang untuk mencari rezeki," jelas Aminah, Jumat (7/11/2014).

Dia menambahkan, akibat banyaknya permintaan pembeli, dirinya pun kewalahan sehingga mengajak sanak keluarganya untuk berjualan. "Kami membawa pakai mobil pick-up, ya langsung dijual disitu dan sebagian dikepar di bawah, setelah sore kami kembali lagi ke rumah yang pastinya dengan membawa uang," ungkapnya senang.

Senada dikatakan oleh Ratih, wanita yang menjajakan petai di pasar Inpres ini bisa menjual petai sampai ratusan ikat. Bahkan, tidak membutuhkan waktu lama barang yang dijualnya dalam hitungan beberapa jam ludes terjual. Tak jarang para pembeli rata-rata yang membuka usaha rumah makan.

"Alhamdulilah, karena kami menjual petai tidak setiap hari. Memang peminat disini sangat banyak, sehingga tidak sulit untuk menjualnya," ungkapnya.

Sementara itu, Kupik Feni, pelaku usaha rumah makan diwilayah Kayu Ara ini, hampir setiap harinya membeli untuk kebutuhan konsumen yang akan makan di tempat usaha miliknya. Karena, tempat usahanya terkenal dengan selalu menyajikan petai goreng.

"Pelanggan saya hampir rata-rata memesan makan selalu ditambahkan petai, dengan banyaknya pedagang yang menjual, maka tidak pusing lagi untuk mencarinya," katanya. (men/TS)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved