Warga Banyuasin Terpaksa Pakai Air Berwarna Kecoklatan

Puluhan warga dari sejumlah kelurahan dan desa yang berada di Kecamatan Banyuasin III beramai ramai mendatangi sungai mati.

Editor: Soegeng Haryadi

SRIPOKU.COM, BANYUASIN -- Puluhan warga dari sejumlah kelurahan dan desa yang berada di Kecamatan Banyuasin III beramai ramai mendatangi sungai mati yang membelah akses Jalan Lingkar Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Banyuasin. Musim kemarau panjang yang tengah melanda ditambah sering tersendatnya pasokan PDAM membuat warga tidak memiliki pilihan lain selain mempergunakan air sungai yang berwarga cokelat tersebut untuk memenuhi aktivitas mandi dan cuci setiap hari.

"Sejak dua pekan terakhir setiap hari sore kami mandi, mencuci dan mengambil air disini karena air PDAM sangat sering tidak mengalir sehingga kami terpaksa mencari sumber mata air lainnya," ungkap seorang warga Kelurahan Sterio, Maemunah (36), Minggu (05/10/2014).

Ia menuturkan kondisi tersebut sangat memberatkan warga yang terpaksa harus menggunakan sepeda motor ataupun kendaraan lain untuk dapat sampai di lokasi tersebut. Jarak rumahnya dengan sungai tersebut mencapai tiga hingga empat kilometer. Selain melakukan aktivitas mandi dan cuci, warga juga melakukan pengambilan air dengan menggunakan bak ataupun jeriken. Persediaan air tersebut sedianya akan digunakan untuk aktivitas mandi, cuci dan kakus (MCK) yang dilakukan di rumah mulai dari malam dan pagi hari.

"Jika tidak ada persediaan air kasihan anak anak yang hendak sekolah di pagi hari karena tidak dapat mandi, dan tidak mungkin bisa datang ke sungai ini," jelasnya.

Ia mengaku tidak begitu khawatir akan dampak kesehatan yang mungkin ditimbulkan karena penggunaan air sungai yang nampak coklat berlumpur tersebut. Namun pihaknya berharap pemerintah daerah dapat mencarikan sulusi cepat untuk mengakhiri derita warga.

Hal senada disampaikan Gunadi (36), warga Kelurahan Kedondong Raye yang menuturkan dua hari sekali terpaksa mengambil air di sungai mati tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dirinya juga mengeluhkan ketidakmampun PDAM dalam memberikan pasokan air yang cukup bagi warga yang menjadi pelangan setia PDAM Tirta Betuah.

"PDAM lebih sering mati musim kemarau ini, padahal saat ini lah kami sangat membutuhkan pasokan air yang cukup untuk aktivitas rumah tangga," ungkapnya.

Ia menuturkan selain seringa padam, pasokan air dari PDAM akhir akhir ini jauh berkurang dari biasanya, sehingga warga harus mencari alternatif lain sumber mata air.

Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Betuah Kabupaten Banyuasin, Ir Bakrie menegaskan dalam beberapa hari terakhir memang terjadi gangguan pada pompa utama yang mengalirkan air sungai ke tempat penampungan untuk diolah. Menurunya jumlah debit air sungai yang akan diolah tersebut sehingga berdampak pada menurunnya debit air yang dialirkan ke rumah rumah warga.

"Kondisi tersebut kemungkinan masih akan berlangsung lama, karena diperparah menurunnya debit air sungai musi yang terjadi akibat musim kemarau, dimana untuk sementara pihaknya mempergunakan beberapa pompa kecil untuk menggantikan pompa utama yang mengalami kerusakan," tegasnya.

Ia menegaskan dalam beberapa hari ke depan, pihaknya memastikan kerusakan yang terjadi dapat segera diperbaiki karena hingga hari ini suku cadang yang mengalami kerusakan masih dalam pemesanan. Namun lanjutnya, untuk debit air tentunya tidak dapat serta merta diselesaikan, karena kondisi tersebut disebabkan musim kemarau telah menyurutkan debit air Musi yang menjadi satu satunya sumber mata air yang digunakan untuk PDAM wilayah tersebut. (TS)

Tags
Banyuasin
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved