Breaking News:

Angin Penyebab Tebalnya Kabut Asap di Palembang

Ini yang membuat kabut asap dari kebakaran lahan terbawa ke Palembang sehingga asap sangat tebal di sore hari.

Penulis: Refli Permana | Editor: Tarso

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Kabut asap di Palembang dan sekitarnya semakin terasa pekat di saat sore dan malam hari. Ditengarai, angin menjadi penyebab mengapa asap di Palembang terasa amat pekat di sore hari.

Kasi Informasi dan Observasi BMKG Kenten Palembang, Indra Purna, mengatakan kabut asap di Palembang masih disebabkan  dari kebakaran lahan yang terjadi. Kabut asap hasil kebakaran lahan itu dibawa angin yang bertiup dari tenggara menuju ke Palembang. Ini yang membuat kabut asap dari kebakaran lahan terbawa ke Palembang sehingga asap sangat tebal di sore hari.

"Sementara, di saat siang dan pagi, angin tidak menuju Palembang. Asap tidak hanya tebal di sore hari, namun juga di malam hari," kata Indra, Jumat (3/10/2014).

Saat sore hari hingga menjelang malam, kata Indra, angin yang bertiup mulai cukup kencang. Hal ini diakibatkan karena adanya angin Tenggara yang bertiup melalui Palembang.

Ketika disinggung apakah sudah ada tanda-tanda musim kemarau akan berakhir, Indra mengatakan tanda-tandanya belum terlihat. Ia menduga, kemarau akan terus melanda Sumsel dan sekitarnya hingga pertengahan Oktober.

Sebelum pergantian musim, masih kata Indra, akan terlihat tanda-tanda peralihan dari kemarau ke musim hujan. Hanya saja, tanda-tanda peralihan tersebut belum terlihat sehingga diprediksi kemarau masih akan panjang.

Sebab itu, kabut asap akan terus melanda Sumsel dan sekitarnya. Bencana ini barulah akan berangsur menghilang begitu tanda-tanda peralihan musim sudah terlihat.

"Pada malam hari akan terasa agak panas karena kelembaban saat ini hanya 50 persen, normalnya adalah 60-65 persen. Namun saat ini di dibawah itu," jelas Indra.

Terkait titik-titik hot spot, ungkap Indra, sekarang ini masih fluktuatif. Dengan kata lain, titik hot spot tiap harinya bisa naik, bisa turun. Titik-titik hot spot yang terpantau di satelit terlihat cukup banyak, yakni 65-70 titik setiap harinya.

"Kita imbau masyarakat untuk lebih menjaga kesehatan, terutama pengguna kendaraan. Instansi terkait juga harus lebih intens memadamkan kebakaran lahan," pungkasnya.

Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved