Karir
Gaji Bos dan Karyawan Makin "Njomplang"
Rata-rata pendapatan pemimpin eksekutif perusahaan dalam daftar FRSE 100 pada 1998 adalah 47 kali rata-rata gaji karyawan.
SRIPOKU.COM, LONDON -- Para bos di perusahaan-perusahaan terbesar di Inggris, punya pendapatan 143 kali rata-rata gaji pegawai pada 2013, berdasarkan penelitian yang dipublikasikan pada Senin (18/8/2014). Kesenjangan terbesar, pendapatan bos 1.500 kali gaji karyawan.
Publikasi penelitian terbaru ini menunjukkan kesenjangan pendapatan yang membesar antara bos dan karyawan. Kesenjangan pun hampir tiga kali lipat dari gap pada 1998. Rata-rata pendapatan pemimpin eksekutif perusahaan dalam daftar FRSE 100 pada 1998 adalah 47 kali rata-rata gaji karyawan.
Padahal, Pemerintah Inggris sebenarnya sudah membuat Undang-undang yang membatasi gaji dan bonus para bos, setelah krisis keuangan menerpa Eropa.
"Ketika para bos mendapatkan uang berlipat kali gaji yang didapatkan karyawan lain, (kesenjangan) itu menciptakan rasa ketidakadilan yang mendalam," kata direktur High Pay Centre, Deborah Hargreaves, yang terlibat dalam riset pendapatan tersebut.
Kesenjangan terlebar pendapatan bos dan karyawan di Inggris, berdasarkan penelitian tersebut terjadi di dalam grup perusahaan tambang Randgold Resources. Bos Rangold, Mark Bristow, dibayar 4,4 juta poundsterling setahun, setara lebih dari Rp 85 miliar, yang 1.500 kali rata-rata gaji pegawai perusahaan tersebut.
Berikutnya, Martin Sorrel yang adalah kepala pemasaran di perusahaan raksasa WPP, mendapatkan pendapatan senilai hampir 800 kali rata-rata gaji pegawainya, dengan nominal 29,8 juta poundsterling, setara lebih dari Rp 572 miliar, setahun.
Bos perusahaan ritel Next, Simon Wolfon, meraup pendapatan 460 kali rata-rata gaji pegawainya pada 2013. Namun, Wolfson kemudian membagi-bagikan bonus yang dia dapatkan kepada para pegawainya.
Riset ini dipublikasikan sepekan setelah Bank of England terbelah dalam dua proyeksi pertumbuhan pendapatan pada tahun ini, dengan prakiraan pertumbuhan hingga di bawah tingkat inflasi yang sekarang berada di level 1,25 persen.
Gubernur Bank of England, Mark Caney, mengatakan proyeksi tersebut menggambarkan pertumbuhan rendah pendapatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Inggris.
Ramalan ini tersebut muncul setelah data resmi memperlihatkan pembayaran tahunan pada kuartal kedua tahun ini turun 0,2 persen, penurunan pertama yang terjadi setelah puncak krisis keuangan pada 2009.
Penurunan daya beli masyarakat terus terjadi meskipun pertumbuhan ekonomi Inggris membaik, dengan ekonomi yang membesar dibandingkan sebelum krisis keuangan global menghantam pada 2008.
"Pemerintah perlu mengambil langkah yang lebih radikal atas gaji tertinggi (di perusahaan) untuk mewujudkan ekonomi berkeadilan yang bisa diterima orang-orang biasa," ujar Hargreaves. Data penelitian ini berasal dari laporan perusahaan dan data dari konsultan peneliti investasi dana pensiun.