Petani Karet di Empatlawang Enggan ke Kebun

Para petani mengaku harus putar otak dengan kondisi ini, sebagian harus banting setir mencari pekerjaan lain.

Petani Karet di Empatlawang Enggan ke Kebun
DOK. SRIPOKU.COM
Ilustrasi 

SRIPOKU.COM, TEBINGTINGGI -- Tak kunjung membaiknya harga, serta menurunnya hasil getah karet membuat petani enggan lagi ke kebun. Bahkan, tidak sedikit yang terpaksa banting setir menjadi buruh harian.

Anjloknya harga karet sekarang ini sangat menyempitkan perekonomian para petani yang sumber penghidupan kesehariannya mengandalkan hasil penjualan komoditi tersebut. Para petani sangat mengeluhkan harga saat ini, apalagi hasil yang didapat jauh lebih menurun.

Para petani mengaku harus putar otak dengan kondisi ini, sebagian harus banting setir mencari pekerjaan lain demi menghidupi keluarga. Mereka memilih mencari pekerjaan lain, walaupun hanya sebagai buruh harian.

"Cobalah perhitungkan kalau ngarit parah, dua hari baru bisa berjual yang hasilnya hanya beberapa kilogram. Kalau buruh harian, meskipun sebagai kenek bangunan masih Rp 50 ribu bersih perharinya," ungkap Yansah, warga Tebingtinggi.

Dikatakannya, pada umumnya petani memilih stop menyadap karet, karena pertimbangan penghasilannya lebih rendah ditambah hasilnya sadapan yang sedikit. Sehingga, tidak bisa mencukupi kebutuhan perharinya.

"Sekarang ini harganya paling tinggi hanya Rp 4.000, belum lagi hasilnya jauh menurun dari hasil normalnya. Ya, kalau harganya tinggi, perhitungannya masih menang nyadap karet, ketimbang menjadi kuli bangunan. Masalahnya, menjadi kuli bangunan banyak menguras tenaga," katanya.

Hal senada dikatakan Sikin, harga karet saat ini tidak berpihak kepada para petani, karena itu harapannya pemerintah bisa memperbaiki harga komoditi ekspor ini. Bila tidak ada turun tangan dari pemerintah, maka kehidupan para petani semakin terjepit.

"Mengapa dulu harganya bisa tinggi, sementara saat ini kian terpuruk. Mestinya pemerintah mengambil sikap atau kebijakan untuk mendongkrak harga jual karet ini," harapnya.

Menurutnya, bila tidak adanya perubahan harga, lama kelamaan tidak menutup kemungkinan para petani beralih ke tanaman lainnya. Jika terjadi, pastinya hasil perkebunan dari Empatlawang yang termasuk hasil pertanian yang diperhitungkan ini akan menghilang.

"Hasil pertanian dan perkebunan di Empatlawang merupakan penyuplai pemasukan terbesar di Empatlawang, karena memang mayoritas sebagai petani. Bila tidak ada perhatian dari pemerintah, dampaknya juga akan mempengaruhi hasil pendapatan daerah," terangnya. (st2)

Editor: Soegeng Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved