Health

Studi: Bermain Game Berlebihan Bisa Merusak Otak

Sebuah penelitian terbaru menyebutkan bahwa terlalu banyak bermain game dapat membuat otak menjadi rusak.

Editor: Budi Darmawan

SRIPOKU.COM, BOSTON - Pesatnya perkembangan perangkat mobile dan teknologi internet membuat game semakin populer. Tak hanya menggunakan konsol atau PC, kini game juga bisa dimainkan melalui smartphone atau tablet.

Video game, apapun itu platform-nya, memang telah menjadi permainan yang sangat populer saat ini. Baik laki-laki maupun perempuan di rentang usia berapa pun banyak yang menghabiskan waktu luangnya dengan bermain game.

Usia remaja disinyalir menjadi salah satu kelompok terbesar yang sangat mencintai permainan ini. Meski sudah banyak penelitian yang telah menjelaskan bahwa terlalu banyak bermain game bisa berdampak negatif, nampaknya hal itu tidak menjadi penghalang.

Baru-baru ini, sebuah artikel yang dipublikasi oleh Neurology Now dari American Academy of Neurology, menyebutkan bahwa bermain game secara berlebihan tidak hanya berdampak buruk pada perilaku remaja, tetapi juga otak remaja itu sendiri.

Perubahan yang terjadi pada otak akibat bermain game memang bisa sangat bermanfaat untuk masa depan. Meski demikian, bermain game dalam porsi yang berlebihan justru berdampak sebaliknya, yakni dapat merusak perkembangan otak.

Mengutip GameInformer, sebagian besar argumen yang ditulis Neurology Now adalah seputar Dopamin pada otak remaja. Perlu diketahui bahwa Dopamin adalah neurotransmiter yang membantu mengontrol pusat kepuasan dan kesenangan di otak.

Dopamin juga membantu mengatur tindakan dan tanggapan emosional, sehingga memungkinkan kita untuk tidak hanya mengapresiasi penghargaan, tetapi juga mengambil tindakan untuk meraihnya.

Peran game di sini adalah dapat mengaktifkan pusat kesenangan di otak dan merangsang emosi positif itu sendiri. Masalahnya adalah, game didesain untuk menargetkan pusat kesenangan ini, dan saat bermain game otak kemudian merespon dengan memproduksi Dopamin lebih sedikit dari kebutuhan.

"Otak seolah mendapat pesan untuk memproduksi neurotransmiter penting ini dalam jumlah yang lebih sedikit. Hasil akhirnya, gamer bisa berakhir pada kekurangan pasokan Dopamin," kata sang penulis, Amy Paturel.

"Sejak awal 1990-an, para ilmuwan memperingatkan bahwa video game hanya menstimulasi daerah otak yang mengontrol penglihatan dan gerakan. Bagian lain dari otak yang bertugas untuk mengatur perilaku, emosi, dan belajar menjadi terbelakang," imbuhnya.

Meski lebih banyak menjelaskan tentang dampak negatifnya, Paturel tetap mendukung semua manfaat yang mampu diberikan pada otak karena bermain game. Remaja yang gemar bermain game diklaim lebih siap menghadapi dunia kerja dan merespon segala perubahan di lingkungan kerjanya.

Pembahasan terkait dampak video game memang bukan hal baru dan menjadi topik yang kontroversial. Yang terakhir terjadi adalah pada Mei lalu, dimana seorang pemuda di China dilarikan ke rumah sakit setelah ditemukan pingsan di warnet akibat terlalu lama bermain game online.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved