Breaking News:

Divonis Mati, Abdullah Rusik Ajukan Banding ke Mahkamah Agung

Pengajuan kasasi dilakukan lantaran upaya hukum banding di Pengadilan Tinggi (PT) Palembang beberapa waktu lalu dinilai gagal.

Penulis: Candra Okta Della
Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM/CANDRA OKTA DELLA
Suasana sidang Abdullah Rusik (32), pelaku pembunuhan sadis dengan melakukan pemenggalan kepala terhadap Iskandar beberapa waktu lalu. 

SRIPOKU.COM, SEKAYU -- Terpidana hukuman mati Abdullah Rusik (32) yang merupakan otak pelaku pembunuhan sadis terhadap korban Iskandar, Rabu (7/7/2013) silam, akhirnya mengajukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung.

Pengajuan kasasi tersebut dilakukan lantaran upaya hukum banding di Pengadilan Tinggi (PT) Palembang beberapa waktu lalu dinilai gagal, karena Majelis Hakim PT Palembang yang diketuai oleh HM Daud Ahmad dalam putusannya menguatkan putusan Pengadilan Negeri Sekayu nomor: 874/Pid.B/2013/PN.Sky yang menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Rusik dengan hukuman mati.

“Setelah kita terima pemberitahuan putusan banding pada 20 Juni lalu, hari ini kita sudah mendaftarkan kasasi melalui PN Sekayu dengan Akta Permohonan Kasasi nomor 07/Akta.Pid/2014/PN.Sky,” ujar Penasehat Hukum Terpidana Rusik, Wisnu Oemar saat dibincangi usai mendaftarkan kasasi, di PN Sekayu, Selasa (24/6/2014)

Dikatakan Wisnu, pihaknya sangat dirugikan karena lambatnya penyampaian putusan banding. Atas dasar itulah pihaknya menilai pelaksanaan peradilan perkara Rusik dalam hal penyampaian hukuman banding bertentangan dengan azas peradilan yang harus dilaksanakan secara cepat, sederhana, dan biaya ringan.

“Dalam Akta Kasasi disebutkan tidak menerima putusan majelis hakim PT Palembang,” tegas dia.

Hal ini dikarenakan, dalam proses banding, lanjut dia, Majelis Hakim PT Palembang tidak sama sekali menggubris berkas yang menyatakan bahwa terpidana Rusik mengalami sakit jiwa. Seperti surat Visum Et Reperentum Psychiatricum nomor 441.3/5475/RS ERBA/2012 soal kejiwaan Rusik dan kartu pasien dengan nomor 052225.

“Itu sangat bertentangan dengan Pasal 44 Ayat (3) KUHP yang pada pokoknya menerangkan apabila ada tanda-tanda kelainan jiwa dari terdakwa maka PN, PT, dan hakim MA harus menempatkan terdakwa di RS Jiwa untuk diperiksa kesehatan jiwanya dan diobati,” beber dia.

Dengan mengajukan kasasi tersebut, dirinya berharap Majelis Hakim MA menerapkan hukum secara benar dan adil terhadap terpidana Rusik. “Kita minta Rusik diperiksa kejiawaannya, jika terbukti sakit perbuatan tidak dapat dipertanggungjawabkan atau dibebaskan,” ucap dia.

Sementara, Humas PN Sekayu, Hendri, membenarkan adanya pendaftaran permohonan kasasi atas nama terpidana rusik di PN Sekayu. Setelah didaftarkan, lanjut dia, Pengacara akan melakukan pembuatan memori kasasi dan JPU membuat kontra memori.

“Kalau semua berkas lengkap, akan segera kita kirimkan secepatnya ke MA,” tandas dia.

Sebelumnya, majelis hakim PN Sekayu yang diketuai oleh Anisa Bridigestirana SH, dalam amar putusannya menyatakan menyatakan bahwa terdakwa rusik telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yakni turut serta melakukan pembunuhan berencana sesuai dengan Pasal 340 KHUP JO Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP, Pasal 197 KUHAP.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tersebut dengan pidana mati,” tegas Anisa dalam putusannya, Selasa (18/2/2014) lalu.

Adapun hal-hal yang memberatkan terdakwa, dikatakan Anisa yakni perbuatan terdakwa Rusik mengakibatkan korban meninggal dunia, terdakwa Rusik pernah dihukum, terdakwa tidak menyesali perbuatannya dan tidak bersikap sopan di dalam persidangan.

“Tidak ada hal-hal yang meringankan pada diri terdakwa Rusik dalam perkara ini,” tandas dia.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved