Penderita HIV/AIDS di Muba seperti Fenomena Gunung Es

Aksi menutup diri dan tidak ingin memeriksakan kesehatan karena malu merupakan faktor pertama penderita penyakit menular seksual ini susah

Penulis: Candra Okta Della | Editor: Sudarwan

SRIPOKU.COM, SEKAYU - Jumlah penderita penyakit menular seksual atau Infeksi Menular Seksual (IMS) di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) saat ini seperti fenomena gunung es, tampak kecil di permukaan namun begitu besar pada kenyataannya.

Menurut Ketua Klinik Vct HIV/AIDS Akrim, aksi menutup diri dan tidak ingin memeriksakan kesehatan karena malu merupakan faktor pertama penderita penyakit menular seksual ini susah untuk dilacak dan didata.

“Banyak hal yang membuat data penderita HIV/AIDS di Muba tidak begitu valid atau sesuai fakta di lapangan, karena pada umumnya pekerja sek komersial dan masyarakat enggan untuk memeriksakan diri karena malu jika dinyatakan positif menderita IMS,” ujar Akrim, Selasa (27/5/2014).

Diceritakannya, penyebaran penyakit ini secara umum telah diketahui yaitu melalui jarum suntik, hubungan seks bebas, dan transfusi darah. Namun pencegahan yang paling efektif adalah menjauhi tiga hal tersebut. Tapi sayang kesadaran masyarakat khususnya kaum pria dinilai masih rendah.

Banyaknya pria-pria yang masih sering "jajan", ditambah makin maraknya seks bebas di lingkungan pelajar menjadi faktor paling cepat menularnya penyakit tersebut.

“Yang menjadi korban adalah ibu-ibu rumah tangga yang suaminya tertular akibat sering jajan di luar rumah, sehingga istrinya pun ikut tertular. Pernah ada ibu yang terserang penyakit seperti batuk yang daya tahan tubuhnya juga ikut menurun dan ketika kita periksa ternyata positif HIV/AIDS,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dr Hj Sriwi-jayani M Kes melalui Kepala Seksi (Kasi) Pemberantasan Penyakit Septiani Pratita, SS MKes mengungkapkan berdasarkan hasil survei penyakit IMS dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, ditemukan 20 kasus, sedangkan temuan kasus lain yaitu kecenderungan HIV/AIDS dengan rincian pada 2012 ada 12 kasus, 2013 ada 6 kasus dan 2014 ada 2 kasus.

Pihakya mengakui jika penyakit IMS sejenis dengan penyakit HIV/AIDS, tetapi penyakit IMS bisa disembuhkan jika segera diobati. Berbeda dengan penyakit HIV/AIDS yang sampai saat ini masih tidak bisa di sembuh kan karena penyakit HIV/AIDS itu virus yang mematikan.

“Jenis-jenis penyakit IMS adalah, Uretritis Spesifik, Jengger Ayam, Hepatitis, HIV/AIDS dan GO. Sedangkan gejala-gejala penyakit IMS yang kasat mata adalah kencing nanah, keputihan berlebihan pada wanita, dan luka atau kutil pada alat kelamin. Bahaya dari penyakit IMS ini antara lain bisa membuat badan sakit-sakitan, bisa menyebabkan keguguran, bisa menimbulkan kanker rahim,dan bisa menular pada bayi,“ katanya.

Namun dijelaskanya, tidak semua penyakit IMS bisa diobati. Contoh HIV/AIDS, Herpes, Jengger Ayam dan Hepatitis, termasuk jenis-jenis IMS yang tidak bisa disembuhkan. Sedangkan HIV/AIDS termasuk paling bahaya karena penyakit ini merusak kekebalan tubuh manusia.

Diceritakan Septi bahwa penyakit IMS pada awal gejala tidak memberikan tanda-tanda sama sekali. Sehingga kebanyakan masyarakat yang terjangkit tidak sadar jika sudah terjangkit.

“Pada perempuan IMS seringkali tidak menunjuk gejala meski gejalanya tidak ada dan dan tidak terasa sakit IMS ini bisa ditularkan kepada orang lain maka dari itu saya sarankan kepada semua masyarakat di seluruh Muba agar bisa mencegah penyakit IMS ini dengan cara tidak melakukan atau berhubungan seksual secara bebas,” pungkasnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved