Musim Hajatan , Harga Ayam Pramuka di Tebingtinggi Naik

Kenaikan harga cukup signifikan mencapai Rp 7.000 perekornya, dimana sebelumnya harganya hanya Rp 28.000 perekor, kini mencapai Rp 35.000 perekor.

Musim Hajatan , Harga Ayam Pramuka di Tebingtinggi Naik
SRIPOKU.COM/REFLI PERMANA
Beberapa pekerja tengah mengangkut ayam petelur atau ayam pramuka dari salah satu peternakan ayam di Muaradua, OKU Selatan. 

SRIPOKU.COM, TEBINGTINGGI -- Musim hajatan serta menjelang bulan puasa, ayam negeri atau yang biasa disebut ayam pramuka laris manis di pasaran. Kondisi ini sepertinya dimanfaatkan para penjual untuk menaikan harga. Kenaikan harga yang cukup signifikan ini membuat pembeli merasa terkejut. Meskipun demikian, karena kebutuhan, sehingga warga terpaksa membeli meskipun harga tersebut cukup merogoh kocek.

Menurut sejumlah warga, Minggu (25/5/2014), saat ini memang banyak warga yang melaksanakan hajatan, terutama pernikahan. Karena pada umumnya ramainya persedekahan ini menjelang bulan puasa serta setelah lebaran. Selain itu, sebentar lagi banyak yang melaksanakan sedekah ruahan menyambut bulan puasa serta persiapan bulan puasa itu sendiri. Secara otomatis, permintaan akan ayam pedaging ini akan meningkat.

Meningkatnya permintaan ini menjadi peluang yang tidak disia-siakan para penjual untuk meningkatkan harga. Kenaikan harga cukup signifikan mencapai Rp 7.000 perekornya, dimana sebelumnya harganya hanya Rp 28.000 perekor, kini mencapai Rp 35.000 perekor.

"Minggu belakang kami beli harga perekornya Rp 28.000, kini Rp 35.000 perekornya. Ya, terkejut juga saat membelinya, karena kenaikannya cukup tinggi," ungkap Masro, ibu rumah tangga di Tebingtinggi.

Dikatakannya, saat ini kebutuhan akan daging ayam sepertinya bukan lagi kebutuhan sekunder, tetapi sudah kebutuhan primer. Pasalnya, mau tak mau, itu harus dipenuhi, apalagi bagi mereka yang ingin melaksanakan persedekahan. Karena itu, peningkatan permintaan ini digunakan para penjual untuk menaikan warga. Sepertinya mereka semaunya saja menaikan harga, di sisi lain tidak adanya kontrol harga dari instansi terkait membuat harga kian melambung.

"Kenaikan harga, termasuk barang lainnya tanpa adanya kontrol dari pemerintah, sehingga bisa dipermainkan penjual. Ya, jauh-jauh hari sudah naik, apalagi beberapa hari menjelang puasa, pastilah harganya selangit," katanya.

Ditambahkan Fitriani, warga lainnya, kenaikan harga ayam ataupun kenaikan harga barang lainnya cukup mencekik mereka yang berpenghasilan dari bertani atau berkebun yang mana pendapatannya tidak menentu. Belum lagi harga-harga kebutuhan pokok serta kebutuhan lainnya yang sudah merangkak naik.

"Kalau petani sekarang ini kian terjepit, perekonomian yang memburuk, karena harga hasil kebun yang kian merosot, sementara harga kebutuhan meningkat. Kalau bulan puasa mungkin kita tidak beli ayam, kalau harganya kian meningkat. Ya, kebutuhan pokok dululah yang penting, tapi kalau ke tempat persedekahan mau tak mau membeli ayam," katanya.

Sementara Rendy, penjual ayam negeri atau ayam potong mengatakan, kenaikan harga tersebut bukan mereka yang menaikan, melainkan karena kenaikan harga dari agen atau pemasok. Kenaikan harga dari mereka itu tentunya berpengaruh dengan harga jual mereka di tingkat pengecer.

"Memang dari agen harga sudah naik. Jadi, kita juga naikan harga, karena tidak mungkin kita jual harganya di bawah harga beli," ujarnya. (st2)

Editor: Soegeng Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved