Tak Sabar Gunakan Karcis Manual
Setiap kali mempertanyakan itu, pramugara belum bisa memberikan karcis manual dengan alasan belum selesai dicetak.
Penulis: Refli Permana | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Karcis manual Trans Musi (TM) yang direncanakan akan diberlakukan kembali membuat masyarakat Palembang tak sabar menunggu realisasinya. Pasalnya, penggunan smart card terkadang tidak bisa digunakan untuk kondisi tertentu.
"Kalau menggunakan karcis manual, kita tidak harus mengisi saldo minimal Rp 10 ribu. Jadi, kalau tidak ada uang dengan jumlah tersebut, bisa menggunakan karcis manual," kata salah satu penumpang TM, Okta, Minggu (6/4/2014).
Menurut Okta, sejak ada informasi akan diberlakukan kembali karcis manual, ia sudah menanyakan keberadaan karcis manual kepada pramugara di halte TM. Namun, setiap kali mempertanyakan itu, pramugara belum bisa memberikan karcis manual dengan alasan belum selesai dicetak.
"Menurut pramugara, lambatnya pencetakan karcis karena hampir seluruh percetakan di Palembang sibuk melayani pencetakan poster caleg. Pencetakan karcis manual pun terhambat dan molor dari waktu yang direncanakan," kata salah satu mahasiswi perguruan tinggi negeri di Palembang itu.
Hampir sama dengan Okta, Rahman juga sangat berharap bisa kembali menggunakan karcis manual. Terlebih, dirinya kini tidak bisa lagi menggunakan smart card karena hilang dan menggunakan temporary card. Sialnya, temporary card tidak berlaku transit sehingga ia harus bayar saat akan melakukan transit.
"Menggunakan smart card juga terkadang masih harus bayar saat transit. Alasanya, mesin rusak dan smart card tidak bisa digunakan. Kalau memakai karcis manual kan tidak akan ada kejadian seperti itu," kata Rahman.
Banyaknya penumpang yang mempertanyakan karcis manual dibenarkan beberapa pramugara TM. Menurut mereka, hampir setiap kali penumpang yang akan naik TM mempertanyakan keberadaan karcis manual dan membuat pramugara kebingungan untuk memberikan jawaban.
"Kita sendiri memang belum tahu kapan pencetakan karcis selesai. Kita hanya bisa menunggu dan hanya atasan yang tahu," kata Dani, salah seorang pramugara.