Investor Inginkan Capres Konsisten
Dua kriteria capres ideal yang diinginkan investor luar negeri, yakni konsisten dan piawai berdiplomasi.
Penulis: Dewi Handayani | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Dua kriteria capres ideal yang diinginkan investor luar negeri, yakni konsisten dan piawai berdiplomasi. Jika harapan tersebut tercapai kondisi perekonomian di semester II usai pemilu legislatif diproyeksi berjalan baik.
Namun secara umum pertumbuhan ekonomi pasca pemilu akan lebih melambat dibandingkan tahun 2013, lalu. Jika tahun lalu ekonomi tumbuh 5.9 persen, pasca pemilu diprediksi berkisar 5,5 persen, tapi baiknya, tingkat inflasi tidak terlalu tinggi dibandingkan tahun ini.
Prediksi itu diungkapkan Perwakilan Mandiri Securitas Jakarta, Fath Aliansyah Budiman didampingi Regional Performance and Budgeting Kanwil II Bank Mandiri, Dody Pribadi di sela-sela diskusi dengan Wartawan Ekonomi Bisnis Sumsel (WEBS) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Palembang, Jumat (7/2/2014) malam. Diungkapkan Fath, secara makro, pihaknya sudah melakukan survei langsung, baik ke investor lokal maupun asing.
Para investor sudah punya peta politik sendiri. Mereka sudah punya opsi, mana capres yang populis dan non populis bagi mereka. "Ada dua kriteria, kalau capres yang saat ini populis maka kondisi ekonomi akan seperti apa, dan jika capres yang non populis justru maju, maka kondisinya pun sudah diprediksi oleh investor ini," kata dia.
Capres populis, kata dia, adalah capres yang sangat populer dengan masyarakat, sebaliknya yang tidak populer masuk kriteria non populis. "Yang jelas tidak etislah kita menyebutkan nama orang dan kendaraan politiknya. Yang jelas investor sudah punya kriteria yang dianggap mereka baik," katanya.
Jika capres populis yang naik, diprediksi kondisi ekonomi mulai bertumbuh. Tekanan dari pihak asing dengan menguatnya rupiah akan memaksa suku bunga kembali naik. Nilainya capai 7.75 persen. Tapi kalau capres non populis justru yang maju, suku bunga BI Rate diprediksi melonjak dikisaran 8,5 persen. Ini karena tekanan dari dalam karena masyarakat tidak terima atas capres yang menang. Investor belajar dari kasus krisis Thailand. Mereka khawatir Indonesia akan seperti Thailand. Makanya, sebelum ini terjadi dikhawatirkan akan ada langkah antisipasi dari mereka dengan menarik modal besar-besaran dari Indonesia ke negara lain. Kondisi inilah yang akan memperburuk kondisi ekonomi di Indonesia.
"Prediksi kita saat itu, BI Rate bisa melambung tembus 8,5 persen dan dolar kembali menguat dikisaran 13 ribu," katanya.
Sebaliknya, jika capres populis yang maju menjadi presiden, artinya sentimen pasar tidak akan terjadi. Kondisinya akan lebik kondusif pada semester II.
Berkaca pada tren dua kali pemilu, yakni tahun 2004 dan 2009, lalu akan terjadi peningkatan pendapatan masyarakat karena derasnya aliran dana dari peserta pemilu kepada masyarakat. Pendapatan masyarakay bertambah akan memicu tingginya kebutuhan konsumtif. Ini memicu Inflasi lebih rendah dari tahun lalu sehingga minat investor semakin baik. Kondisi ini seharusnya didukung oleh kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM.
"Kalau kita memprediksi sebelum pemilu harga BBM tidak akan naik karena tekanan politik juga. Calon Capres dan parpol tidak akan mengambil keputusan ekstrim itu karena khawatir krisis ketidakpercayaan masyarakat terhadap partai tertentu makin menguat. Mereka tidak mau bunuh diri," kata Fath.
Kondisi ini, menurutnya yang akan terjadi. Yang jelas investor hanya menginginkan capres yang terpilih harus memiliki sikap konsistensi yang kuat terhadap semua kebijakan yang sudah direncanakan. "Misalnya capres awalnya punya kebijakan bangun infrastruktur jalan, ketika dia memimpin investor menginginkan yach bangun jalan. Artinya konsistensinya harus dipegang," kata dia.
Kedua, lanjut dia, capres harus pandai-pandai berdiplomasi dan mempunyai hubungan yang kuat dalam dan luar negeri. "Dua kriteria ini yang diinginkan para investor dalam dan luar negeri," katanya.