Kabulog Sumsel "Disandera" Teroris
Di udara, tampak helikopter sudah melayang di halaman Bulog Sumsel, yang berlokasi di Lampu Merah Tanjung Api-api.
Penulis: Refli Permana | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Lagi berada di ruang kerjanya, Bambang Napitupulu selaku Kabulog Sumsel tiba-tiba kedatangan gerombolan tamu bertopeng Jumat (15/11/2013). Tanpa banyak oceh, gerombolan yang membawa senjata api dan bom itu menyandera Bambang di ruang kerjanya. Bambang tak berdaya karena dikelilingi tamu missterius yang rupanya kelompok teroris.
Tak lama, datang Yonif Raider 200 yang sudah mengetahui penyerbuan ini. Mereka datang melalui dua jalur, yakni jalur darat dan jalur udara. Di udara, tampak helikopter sudah melayang di halaman Bulog Sumsel, yang berlokasi di Lampu Merah Tanjung Api-api. Sementara di halaman depan, satu unit mobil tempur berada di halaman dalam kantor Bulog Sumsel.
Sekitar delapan personil terjun dari helikopter dengan tali lengkap dengan senjata api. Secara mengendap-endap, kedelapan personil ini masuk ke bagian dalam gedung. Karena mendapat perlawanan, kedelapan personil ini terpaka balas menembak kelompok teroris yang menyandera Bambang.
Tak mau kalah dengan yang di udara, tiga personil dari mobil tempur di darat ikut keluar. Tugas mereka melumpuhkan kelompok teroris yang menjaga di luar. Lagi-lagi, baku tembak terjadi di halaman luar kantor Bulog Sumsel.
Sekitar 30 menit 'perang', anggota Yonif Raider 200 berhasil melumpuhkan teroris yang hendak menguasai gedung Bulog Sumsel. Bambang pun berhasil diselamatkan tanpa menderita luka ssedikit pun. Gedung Bulog Sumsel juga tak hancur sedikit pun.
Kejadian di atas bukanlah kejadian sebenarnya, melainkan hanya simulasi yang digelar Yonif Raider 200. Teroris yang menyandera Bambang juga hanya fiktif karena mereka sendiri anggota Yonif Raider 200.
Tetap saja, suara letusan tembakan dari senjata api sesungguhnya dan ledakan bom memancing masyarakat untuk menyaksikannya. Jl Kolonel H Barlian di sekitar Lampu Merah Tanjung Api-api terpaksa ditutup supaya simulasi ini lancar.
Dikatakan Komandan Yonif Raider 200, Letkol Inf IKM Gunarda, simulasi ini rutin dilakukan setahun sekali. Tujuannya, untuk memantapkan kemampuan perang prajurit dan penyegaran dari simulasi tahun sebelumnya.
"Bukan untuk ajang keren-kerenan. Ini murni latihan supaya Yonif Raider 200 bisa optimal menjaga stabilitas kemananan NKRI," kata Gunarda.
Seluruh peralatan yang digunakan, lanjut Gunarda, memang peralatan tempur yang sesungguhnya. Hanya saja, khusus untuk bom, yang digunakan adalah bom berdaya ledak rendah ini dilakukan supaya tidak terjadi kehancuran di gedung Bulog Sumsel atau bangunan di sekitarnya.
Untuk mobil udara, yang bisa disebut helikopter, Yonif Raider 200 menggunakan Mobil Udara Pasrooping. Saat simulasi, mobil ini ditumpangi delapan personil. Pemilihan Bulog Sumsel sebagai lokasi karena dianggap sebagai lokasi yang paling rentan dikuasai teroris. Pasalnya, gedung ini pusat penyimpanan makanan untuk provinsi Sumsel.
"Selain itu, medannya juga luas sehingga bagus untuk arena perang," kata Gunarda.